Kesiapan pertolongan pertama menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan kalangan lanjut usia (lansia) saat menghadapi kegawatdaruratan medis mendadak, mulai dari serangan stroke, sesak napas, risiko cedera akibat jatuh, kondisi tubuh lemas, hingga henti jantung.
Guna memperkuat ketangguhan keluarga menghadapi situasi krisis tersebut, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia鈥揜umah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) menggandeng Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS). Kolaborasi ini diwujudkan melalui program bertajuk "Sigap Lansia: Edukasi Nasional Penanganan Kegawatan Sehari-hari pada Lansia" yang digelar secara daring dan luring.
Tanggap Darurat Gempa di Flores Berakhir, Kini Masuk Pemulihan

Urgensi Kesiapsiagaan di Tengah Lonjakan Populasi Lansia
Ketua Panitia Sigap Lansia, Dr. dr. Aida Rosita Tantri, Sp.An-TI, Subsp.An.R.(K), menekankan pentingnya masyarakat memiliki kesiapsiagaan langsung dalam memberikan pertolongan awal, baik di lingkungan domestik rumah tangga maupun ruang publik sekitar.
Langkah edukasi ini didorong oleh dinamika demografi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, proporsi penduduk lansia di Indonesia telah menyentuh sekitar 12 persen dari total populasi atau setara hampir 29 juta jiwa. Angka tersebut diproyeksikan terus melonjak hingga mendekati 20 persen pada 2045 mendatang, yang menuntut kesiapan pendampingan medis primer yang lebih solid dari keluarga.
Cari Kapal Virgo 8, KN SAR Permadi dan Helikopter Dikerahkan

Dalam pelaksanaannya, sesi luring program Sigap Lansia membagi para peserta ke dalam sejumlah pos simulasi guna mempraktikkan penanganan kasus-kasus spesifik. Panitia juga menyelenggarakan kuis sebelum dan sesudah kegiatan untuk memantau peningkatan pemahaman serta persepsi peserta terkait teknik bantuan hidup dasar pada kelompok lansia.






