Kebangkrutan Daewoo Group pada akhir era 1990-an tercatat sebagai keruntuhan korporasi terbesar dalam sejarah Korea Selatan, menyisakan beban utang raksasa yang mengguncang perekonomian negara tersebut. Konglomerat yang pernah mempekerjakan 130.000 orang di berbagai sektor dan menduduki posisi kekuatan bisnis terbesar kedua di bawah Hyundai Group ini akhirnya kolaps akibat ekspansi agresif berbasis pinjaman serta skandal penipuan pembukuan berskala masif.
Strategi Daewoo berbanding terbalik dengan konglomerat Korea Selatan lainnya saat krisis keuangan Asia melanda pada 1997. Ketika grup bisnis seperti Samsung dan LG mulai memangkas pengeluaran, Daewoo justru menambah 14 perusahaan baru ke dalam jaringannya yang telah memiliki 275 anak usaha, sekaligus meningkatkan beban utang lebih dari 40 persen. Akibatnya, grup yang didirikan oleh Kim Woo Choong pada 22 Maret 1967 tersebut tenggelam di bawah timbunan utang yang diperkirakan mencapai 50 miliar hingga 80 miliar dolar AS, sebelum akhirnya resmi mengajukan pailit pada November 1999.
Di balik keruntuhan entitas yang namanya bermakna "alam semesta besar" itu, terungkap rekayasa keuangan yang terstruktur. Para akuntan perusahaan menyembunyikan besaran utang riil dengan menyalurkan suap senilai hampir 400 juta dolar AS kepada sejumlah pejabat. Pendiri Daewoo, Kim Woo Choong, sempat melarikan diri ke Vietnam guna menghindari jerat hukum sebelum akhirnya kembali ke Korea Selatan pada 2005. Pada 2006, pengadilan menjatuhkan vonis sepuluh tahun penjara kepada Kim atas dakwaan penipuan akuntansi senilai 43 miliar dolar AS dan penyelundupan valuta asing sebesar 3,2 miliar dolar AS.
BRI Hadir di Festival Kuliner Serpong, Beri Cashback Hingga Lelang Gadget

Transformasi Lini Otomotif dan Akuisisi General Motors
Divisi otomotif Daewoo memiliki riwayat panjang sebelum terseret krisis induk perusahaannya. Sektor ini berakar dari National Motor yang didirikan di Incheon pada 1937 sebagai produsen mobil pertama Korea, lalu berganti nama menjadi Saenara Motor pada 1962 dan sempat merakit Datsun Bluebird sebelum bangkrut pada 1963 imbas larangan impor kit dari Jepang. Asetnya kemudian diambil alih Shinjin Industrial, berkolaborasi dengan Toyota, lalu bermitra dengan General Motors pada 1972 menjadi General Motors Korea, sebelum beralih menjadi Saehan Motor pada 1976 dan resmi dinamai Daewoo Motor Co. pada 1982 saat Daewoo Group mengambil alih kendali.
Setelah meluncurkan sedan LeMans pada 1986 berbasis platform Opel Kadett鈥攜ang juga dipasarkan di Amerika Serikat sebagai Pontiac LeMans鈥擠aewoo Motors berpisah dari General Motors pada 1992 untuk beroperasi mandiri. Pada pertengahan 1990-an, Daewoo memperkenalkan lini Lanos, Nubira, dan Leganza melalui kolaborasi dengan rumah desain Italia seperti Giorgetto Giugiaro dan Bertone. Di Indonesia, Daewoo merambah pasar pada 1995 melalui sedan Espero yang diageni PT Stars Auto Dinamika, menorehkan total penjualan 1.151 unit hingga 1999. Masuknya Daewoo ke pasar domestik berjalan beriringan dengan ekspansi produsen Korsel lain, seperti Hyundai yang mulai merakit Elantra di Bekasi Barat pada 1995 dan Kia yang meluncurkan lima model pada 2000 setelah menjadi anak usaha Hyundai sejak 1998.
Toba Pulp Buka Suara usai Jadi Tersangka Korupsi Transfer Pricing

Pascakejatuhan Daewoo Group, General Motors mengambil alih aset utama Daewoo Motors pada 2002 senilai 1,2 miliar dolar AS untuk memegang 67 persen saham di entitas baru bernama GM Daewoo, yang kemudian berganti nama menjadi GM Korea pada 2011. Rancang bangun kendaraan Daewoo diserap ke portofolio global; Daewoo Matiz bertransformasi menjadi Chevrolet Spark dan Daewoo Lanos menjadi fondasi Chevrolet Aveo. Pabrik-pabrik di Bupyeong dan Changwon terus beroperasi memproduksi model global seperti Buick Encore GX, Chevrolet Trax, dan Chevrolet Trailblazer, didukung rencana investasi modernisasi fasilitas senilai 300 juta dolar AS dari General Motors pada Maret 2026, meskipun General Motors sendiri telah resmi menarik diri dari pasar Indonesia sejak 2020.






