Titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus terpantau di sejumlah wilayah Indonesia, mencakup Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Riau, Jambi, hingga Sumatera Selatan (Sumsel). Dalam praktiknya di lapangan, upaya pemadaman api sering kali memerlukan waktu yang panjang dan tidak bisa langsung tuntas hanya dalam satu kali tindakan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kendala mendasar yang dihadapi tim di lapangan saat menangani karhutla. Faktor-faktor utama yang memengaruhi proses pemadaman tersebut meliputi karakteristik lahan, aksesibilitas menuju lokasi, kondisi cuaca, hingga ketersediaan sumber air untuk memadamkan api.
Faktor Apa Saja yang Menyulitkan Pemadaman Karhutla di Lapangan?
Karakteristik lahan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi petugas pemadam kebakaran, terutama pada lahan gambut. Suharyanto menjelaskan bahwa api di lahan gambut memiliki sifat dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat area yang terlihat sudah padam di bagian atas belum tentu sepenuhnya aman, sehingga personel di lapangan wajib terus melakukan proses pendinginan dan pemantauan lebih lanjut guna memastikan bara api di kedalaman tanah benar-benar padam.
Selain faktor jenis lahan, cuaca ekstrem turut memperberat tantangan penanganan kebakaran. Kondisi lingkungan yang panas, kering, dan disertai hembusan angin kencang dapat memicu kembali kemunculan titik-titik api (fire spot) di lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan. Hal ini menjelaskan mengapa penanganan karhutla tidak selalu dapat langsung selesai dalam satu kali operasi.
Wamendagri Bima Arya Dorong Daerah Perluas Basis Pajak Tanpa Bebani Masyarakat

Faktor lain yang sangat menentukan adalah aksesibilitas dan ketersediaan air di lapangan. Di beberapa lokasi, akses darat sangat sulit ditembus oleh petugas pemadam. Ketika personel darat menghadapi kendala medan yang terisolasi dan pasokan air terbatas, pemadaman membutuhkan pengerahan dukungan helikopter pengebom air (water bombing).
Bagaimana BNPB Menentukan Strategi Pemadaman Darat dan Udara?
Untuk menentukan strategi penanganan yang tepat, BNPB melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi di setiap titik kebakaran. Penilaian tersebut mencakup evaluasi luas area yang terbakar, kondisi lahan gambut, tingkat kesulitan akses darat, perkembangan cuaca, serta potensi ancaman terhadap keselamatan warga sekitar.
Melalui pertimbangan parameter tersebut, BNPB memutuskan apakah pemadaman cukup dikerjakan melalui operasi darat atau memerlukan pengerahan dukungan armada udara, baik melalui water bombing maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BNPB terus memperkuat sinergi operasi darat dan udara, dengan skala prioritas ditujukan pada titik api yang berpotensi meluas dan mengancam kehidupan masyarakat.
Tri Tito Karnavian Ingatkan Pelajar di Ternate Hidup Sehat

Kapan Operasi Modifikasi Cuaca Dapat Efektif Dilakukan?
Penggunaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pembasahan dan pemadaman area karhutla tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena sangat bergantung pada dinamika atmosfer dan faktor meteorologis. Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa efektivitas OMC sangat ditentukan oleh ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.
Selain keberadaan awan potensial, arah pergerakan dan perkembangan pertumbuhan awan, kondisi kecepatan angin, serta faktor meteorologis lainnya harus benar-benar mendukung. Apabila di atmosfer tidak tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis tersebut, kegiatan penyemaian awan tidak akan berjalan efektif dalam menghasilkan hujan buatan untuk memadamkan karhutla.






