Pertumbuhan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia terus menunjukkan tren positif berkat dorongan pemerintah serta meningkatnya kesadaran lingkungan. Namun, di balik efisiensi hariannya, para pemilik EV dihadapkan pada realitas biaya proteksi: besaran premi asuransi mobil listrik cenderung lebih tinggi dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal (ICE).
Tingginya premi perlindungan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi harga komponen utama, ekosistem perbaikan, kompleksitas teknologi, hingga keterbatasan data risiko yang dimiliki industri asuransi di Tanah Air.
Komponen Baterai dan Keterbatasan Ekosistem Servis
Faktor pemicu utama terletak pada harga baterai, yang merupakan komponen termahal pada mobil listrik dengan porsi mencapai 40 persen hingga 60 persen dari total nilai kendaraan. Meskipun produsen otomotif global merancang masa pakai baterai setara usia kendaraan, benturan akibat kecelakaan yang merusak struktur pelindung baterai sering kali mengharuskan penggantian modul secara menyeluruh, bukan sekadar perbaikan lokal.
Franky Widjaja Mundur dari DSSA, Ini Sosok Penggantinya

Selain itu, rantai pasok suku cadang untuk sejumlah model EV belum semasif mobil konvensional. Kendati perakitan lokal mulai berjalan, seperti pada fasilitas produksi BYD di Subang, Jawa Barat, ketergantungan terhadap komponen orisinal yang diimpor langsung dari pabrikan resmi masih mendominasi. Situasi ini meningkatkan biaya penggantian suku cadang dan mendongkrak rasio klaim yang ditanggung perusahaan asuransi.
Dari sisi penanganan teknis, perbaikan kendaraan listrik memerlukan mekanik bersertifikasi khusus untuk menangani sistem bertegangan tinggi (high voltage). Keterbatasan jumlah bengkel rekanan yang dibekali peralatan khusus serta tenaga ahli tersertifikasi membuat tarif jasa perbaikan mobil listrik lebih mahal dibandingkan pengerjaan mobil berbahan bakar bensin.
Kompleksitas Sensor ADAS dan Pemodelan Risiko
Struktur teknologi canggih turut memperbesar beban biaya perbaikan. Mobil listrik modern umumnya dilengkapi fitur bantuan pengemudi tingkat lanjut (Advanced Driver Assistance Systems/ADAS) yang mengandalkan sensor, kamera, dan radar pada area rawan benturan seperti bemper depan serta kaca utama. Kerusakan pada bagian tersebut menuntut perbaikan ganda, mulai dari pergantian fisik hingga kalibrasi ulang perangkat lunak yang membutuhkan biaya tambahan.
Jaringan Pipa Minyak Arab Saudi 1.200 Km Ditutup Usai Dihantam Drone

Di tingkat industri keuangan, perusahaan asuransi di Indonesia masih menghadapi keterbatasan data historis. Jumlah populasi mobil listrik yang belum sebanyak mobil konvensional membuat pemodelan risiko aktuarial belum bisa disusun sepresisi mobil bensin.
Di luar kalkulasi risiko dan keselamatan鈥攖ermasuk catatan mitigasi insiden kebakaran nasional yang menurut data Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri mencapai 20.427 kasus pada 2024鈥攖ingginya premi asuransi diimbangi oleh pengeluaran harian yang kompetitif. Pemilik mobil listrik tetap diuntungkan oleh biaya pengisian daya yang lebih murah dibandingkan BBM serta minimnya biaya perawatan berkala karena jumlah komponen bergerak yang jauh lebih sedikit.






