Mengapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya kerap mengalami guncangan gempa bumi? Pertanyaan ini kembali mengemuka setelah gempa bermagnitudo 3,5 mengguncang Kabupaten Bantul pada Kamis sore, 20 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa getaran dangkal tersebut dipicu oleh aktivitas sebuah patahan aktif yang melintasi kawasan tersebut, yaitu Sesar Opak.
Peristiwa yang terjadi pada pukul 17.20 WIB ini berpusat di darat, sekitar 11 kilometer arah timur laut Bantul. Meski kekuatannya tergolong kecil, gempa dengan kedalaman 21 kilometer ini getarannya dapat dirasakan cukup luas hingga ke Kota Yogyakarta, Kulon Progo, Sleman, Klaten, Solo, serta Magelang. Hingga pukul 17.39 WIB pada hari yang sama, BMKG belum mendeteksi adanya aktivitas gempa susulan, dan belum ada laporan mengenai kerusakan akibat guncangan tersebut.
Untuk memahami risiko di masa depan, masyarakat perlu mengenali apa sebenarnya Sesar Opak itu. Patahan aktif yang menjadi sumber gempa di wilayah DIY ini membentang di sekitar aliran Sungai Opak. Jalurnya bermula dari lereng Gunung Merapi, mengalir ke arah selatan, dan bermuara di Samudra Hindia melalui kawasan Pantai Parangtritis di Bantul. Secara keseluruhan, panjang jalur patahan ini diperkirakan mencapai sekitar 45 kilometer. Berdasarkan struktur geologinya, Sesar Opak mencakup sesar mendatar dan sesar normal.
Niat Menonton Tawuran Lewat Instagram Live, Pelajar 15 Tahun di Solear Dibacok hingga Pergelangan Tangan Nyaris Putus

Bukti fisik dari keberadaan sesar ini dapat diamati langsung di permukaan. Salah satu titik pengamatan berada di kawasan Sesar Opak Bukit Mengger, Kabupaten Bantul. Berdasarkan data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lokasi tersebut merupakan salah satu segmen Zona Sesar Opak yang tersingkap ke permukaan. Di kawasan ini, ditemukan bidang sesar mendatar dengan kemiringan yang relatif tegak dan mengarah dari timur laut ke barat daya. Indikasi bahwa patahan ini masih aktif ditunjukkan oleh bidang sesar yang memotong lapisan tanah dengan ketebalan antara 50 sentimeter hingga 5 meter.
Sejarah mencatat bahwa aktivitas Sesar Opak berkaitan erat dengan salah satu bencana paling mematikan di Yogyakarta. Peristiwa tersebut terjadi pada 27 Mei 2006, ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah tersebut beserta sekitarnya. Bencana itu menewaskan 6.234 orang dan menimbulkan kerusakan besar di berbagai wilayah, di mana pusat gempa saat itu berada di sekitar aliran Sungai Opak. Gempa kuat akibat aktivitas sesar ini kembali terjadi pada 30 Juni 2023 dengan magnitudo 6,0. Meskipun kekuatannya cukup besar, dampak kerusakan yang ditimbulkan pada tahun 2023 relatif ringan.
Kebakaran Melanda Kramat Sawah Senen, Puluhan Mobil Damkar Dikerahkan

Mengingat sifatnya yang masih aktif, potensi ancaman dari Sesar Opak tetap harus diwaspadai. Mantan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pernah menyatakan bahwa patahan aktif ini memiliki magnitudo tertarget hingga mencapai 6,6. Guna mengantisipasi risiko yang dapat ditimbulkan, BMKG telah melakukan berbagai survei dan kajian di sejumlah titik sepanjang jalur sesar. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi struktur geologi di permukaan serta memahami karakteristik pergerakan sesar secara lebih mendalam, sehingga mitigasi dapat menjadi langkah penting bagi masyarakat yang tinggal di sekitar jalur patahan.






