Industri game di Indonesia menunjukkan potensi perkembangan yang sangat besar, didukung oleh basis pengguna yang masif. Berdasarkan data terkini, Indonesia memiliki sekitar 153 juta pemain game. Potensi pasar yang luas ini sejalan dengan nilai pasar industri game di tanah air yang diperkirakan mencapai angka 1,9 miliar dolar AS. Skala sebesar ini membuka peluang emas bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi pasar utama, melainkan juga berkembang sebagai pencipta game orisinal yang memiliki daya saing di tingkat global. Besarnya pasar dan kuatnya talenta kreatif di dalam negeri diharapkan dapat mendorong lahirnya lebih banyak studio lokal yang mampu bersaing secara internasional.
Melihat besarnya peluang tersebut, RMIT menyoroti pentingnya menghubungkan potensi pasar game Indonesia dengan ketersediaan talenta yang siap terjun ke industri, kemampuan komersial, serta jaringan internasional. Sebagai langkah nyata, Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, mengambil inisiatif untuk mempertemukan RMIT dengan sejumlah pemangku kepentingan utama di industri game Indonesia. Pertemuan ini dirancang untuk memetakan langkah-langkah strategis guna memperkuat kapasitas studio lokal serta mendorong terciptanya lebih banyak kekayaan intelektual dari Indonesia.
Dalam forum industri yang difasilitasi tersebut, sejumlah pihak penting turut dilibatkan secara aktif. Di antaranya adalah Agate, yang dikenal sebagai salah satu pengembang game terkemuka di Indonesia, serta Asosiasi Game Indonesia (AGI). Melalui diskusi bersama, para peserta forum menilai bahwa kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, pelaku industri, institusi pendidikan, dan pihak investor merupakan kunci utama untuk mempercepat laju perkembangan ekosistem game di Indonesia. Sinergi antarlembaga ini diharapkan dapat membuka jalan bagi solusi konkret atas berbagai hambatan yang ada.
Toyota New bZ4X Touring Buktikan Mobil Listrik Bisa Diajak Bertualang

Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, memberikan penjelasan secara rinci mengenai situasi ini kepada media di Jakarta pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Ia memaparkan bahwa ekosistem pengembangan game di Indonesia terus bertumbuh. Menurutnya, langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah memastikan para pengembang dan pendiri studio tidak hanya menguasai keahlian teknis semata, tetapi juga dibekali dengan kemampuan bisnis dan wawasan internasional. Hal ini diperlukan untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan sekaligus membawa kekayaan intelektual Indonesia kepada audiens global, mengingat pengembangan game saat ini membutuhkan kombinasi kompetensi yang semakin luas.
Dari sisi produktivitas karya, Indonesia sebenarnya telah menunjukkan performa yang cukup impresif. Sepanjang periode tahun 2019 hingga 2025, Indonesia berhasil memproduksi sebanyak 203 judul game independen. Jumlah tersebut merupakan pencapaian yang signifikan, karena setara dengan sekitar sepertiga dari total produksi game independen yang dihasilkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Fakta ini membuktikan bahwa kreativitas dan produktivitas para pengembang lokal memiliki daya saing yang tinggi dan patut diperhitungkan di tingkat regional.
Kendati demikian, struktur pasar game di dalam negeri memiliki keunikan dan kesenjangan tersendiri antara permintaan domestik dan produksi lokal. Saat ini, pasar game di Indonesia masih sangat didominasi oleh segmen game mobile. Di sisi lain, banyak studio game lokal yang justru memilih untuk memfokuskan lini produksi mereka pada pembuatan game premium untuk platform PC dan konsol. Game premium ini umumnya dirancang secara khusus untuk menyasar pasar luar negeri. Kondisi ini sebenarnya membuka peluang bagi industri lokal untuk memperkuat pemahaman pasar, memperluas strategi produk, dan mengembangkan konten yang relevan bagi konsumen di Indonesia.
RSUP Dr. Sardjito Beralih ke Gas Bumi PGN, Raih Efisiensi Operasional hingga 75 Persen

Perbedaan fokus pasar dan dinamika industri ini juga membawa tantangan tersendiri bagi pertumbuhan industri game nasional. Beberapa hambatan utama yang masih membayangi pelaku industri game Indonesia meliputi keterbatasan talenta pada tingkat lanjut, sulitnya akses terhadap pendanaan, serta minimnya kemampuan komersial dan kepemimpinan bisnis. Selain itu, akses untuk menembus pasar internasional secara lebih luas juga masih menjadi kendala yang harus segera diatasi agar ekosistem industri ini dapat berkembang secara optimal.
Untuk mengatasi kesenjangan keterampilan dan mendukung pengembangan kemampuan digital serta kreatif di Indonesia, RMIT telah melakukan kolaborasi nyata dengan pemerintah dan industri. Pada tahun 2024 dan 2025, RMIT menjalin kemitraan strategis dengan EKRAF dan Apple. Kemitraan tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan program pelatihan desain game digital, yang dirancang khusus untuk meningkatkan kompetensi teknis dan kreativitas para perancang game di Indonesia agar mereka siap menghadapi tantangan industri masa depan.






