Jakarta menjadi saksi pembahasan mendalam mengenai masa depan perlindungan digital dalam gelaran Kaspersky Academy Partners Summit 2026 pada Rabu (20/8). Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, perusahaan keamanan siber global Kaspersky menegaskan bahwa keandalan sistem digital tidak dapat dilepaskan dari faktor manusia. Penilaian serta pemikiran kritis manusia dinilai tetap menjadi pilar utama yang tidak tergantikan, sekalipun kecerdasan buatan kini semakin mahir dalam mempertahankan sistem maupun melancarkan serangan siber.
Pergeseran ini didorong oleh perubahan lanskap industri keamanan siber yang sangat fundamental. Berdasarkan studi International Information System Security Certification Consortium (ISC2) tahun 2025, banyak organisasi kini mulai memprioritaskan pelatihan kecerdasan buatan bagi tenaga kerja mereka. Namun, adopsi teknologi tersebut berbarengan dengan peningkatan ancaman baru yang signifikan, seperti serangan berbasis kecerdasan buatan berupa penipuan identitas dan teknologi manipulasi wajah atau deepfake.
Mengapa Marcus Rashford Lelah Menjadi Bahan Pembicaraan Media dan Podcast?

Ancaman siber juga semakin dekat dengan aktivitas digital sehari-hari. Riset Kaspersky menunjukkan bahwa 27 persen generasi Z menganggap kecerdasan buatan sebagai teman. Peneliti Kaspersky memperingatkan bahwa kepercayaan berlebih pada agen cerdas ini menimbulkan risiko keamanan, terutama dengan maraknya serangan malware yang menyamar sebagai layanan ChatGPT hingga Gemini. Risiko pencurian data dan pemasangan malware juga mengintai dari celah keamanan pada fitur anotasi Zoom, sebuah kondisi yang patut diwaspadai mengingat 77 persen masyarakat Indonesia menjadikan ponsel sebagai perangkat utama internet menurut survei terbaru Kaspersky.
Dampak dari situasi keamanan digital ini kian terasa nyata di tingkat regional. Kaspersky melaporkan adanya 75 juta serangan siber di wilayah Asia Pasifik sepanjang paruh pertama (H1) tahun 2026. Tantangan ini diperparah oleh kesenjangan kompetensi yang sangat lebar, di mana Asia Pasifik menyumbang 60 persen dari total kesenjangan talenta siber dunia. Khusus di kawasan Asia Tenggara, hambatannya mencakup tingginya syarat pengalaman kerja bagi pemula, kurangnya instruktur kompeten untuk melatih generasi muda, serta terbatasnya materi pelatihan dalam bahasa lokal.
Proses Panjang Menjaga Kualitas Ayam Goreng agar Tetap Renyah dan Konsisten

Kompleksitas ancaman teknologi ini sejalan dengan temuan AXA Future Risk Report 2025 yang memetakan siber dan kecerdasan buatan ke dalam 10 risiko global. Guna mengatasi tantangan besar tersebut, Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, mendorong kolaborasi kuat antara pihak akademisi, industri, dan pembuat kebijakan. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat pencetakan talenta digital yang kompeten demi menjaga keamanan sistem di masa depan.






