Sinergi antara dunia usaha dan lembaga pemasyarakatan kini menjadi salah satu metode alternatif untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri. Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, model kerja sama ini diterapkan oleh PT Mandraguna Pusaka Indonesia yang mempekerjakan warga binaan dari Lapas Kelas IIA Garut. Melalui program asimilasi, para warga binaan dilibatkan langsung dalam proses produksi pupuk organik cair yang memanfaatkan limbah kulit. Langkah ini tidak hanya membantu operasional pabrik, tetapi juga memberikan keterampilan praktis bagi para narapidana sebelum mereka kembali ke masyarakat.
Untuk memulai model kolaborasi ini, langkah pertama yang dilakukan adalah membangun kerja sama resmi antara pihak manajemen perusahaan dan pihak lembaga pemasyarakatan. Pemilik PT Mandraguna Pusaka Indonesia, Rian, bersama Direktur Operasional dan HRD, Nazmul, menjajaki kemitraan ini dengan Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, sekitar tiga bulan lalu. Sebanyak sembilan warga binaan yang sedang menjalani masa asimilasi kemudian terpilih untuk bekerja di fasilitas produksi pupuk. Dalam pelaksanaannya, para pekerja ini ditempatkan pada beberapa pos penting, mulai dari pencucian bahan baku, bagian produksi, pengemasan, hingga area gudang. Selama beraktivitas di luar area lapas, mereka tetap berada di bawah pengawasan ketat dari dua petugas lapas guna memastikan prosedur keselamatan dan keamanan tetap terjaga.
Perluas Jaminan Sosial, BPJS Kesehatan Raih Koperasi Awards 2026

Dampak dari penempatan tenaga kerja asimilasi ini langsung terlihat pada efisiensi dan peningkatan volume produksi. Ketika kegiatan produksi mulai berjalan dalam dua bulan terakhir, kapasitas awal pabrik berada di kisaran 3.000 liter. Seiring dengan penyesuaian kerja, volume produksi meningkat menjadi 6.000 liter dan kini telah menembus angka 12.000 liter. Keberhasilan peningkatan kapasitas ini tidak lepas dari etos kerja para warga binaan. Pengalaman nyata dari pengusaha Garut pekerjakan napi: cepat belajar, tak perlu disuruh lagi setelah mereka memahami alur produksi pupuk organik cair berbasis asam amino dari limbah kulit sapi dan domba tersebut.
Dalam pembagian operasionalnya, PT Mandraguna memegang kendali penuh atas aspek legalitas, pemasaran, serta pengendalian kualitas produk. Sebelum dipasarkan secara luas ke masyarakat, pupuk organik cair ini telah diuji coba pada tanaman jagung di kawasan food estate Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Produk ini diklaim memiliki tiga keunggulan utama bagi sektor pertanian, yaitu memberikan efisiensi pemakaian pupuk bagi petani, meningkatkan produktivitas hasil tani antara 30 hingga 100 persen, serta mendukung terciptanya pangan yang lebih sehat karena menggunakan bahan dasar organik. Saat ini, potensi serapan pasar sangat besar, salah satunya ditunjukkan oleh permintaan dari Trubus yang mencapai sekitar dua juta liter dalam setahun.
Ayah Kandung Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Anak di Merauke

Tahapan berikutnya yang menjadi fokus perusahaan adalah meningkatkan kapasitas pengolahan limbah. Saat ini, fasilitas pengolahan yang dijalankan bersama warga binaan baru mampu menyerap sekitar dua persen dari total limbah kulit yang dihasilkan oleh para perajin di Garut. Target jangka panjang dari kolaborasi ini adalah menaikkan kapasitas penyerapan limbah tersebut hingga mencapai kisaran 20 persen. Melalui langkah pengembangan ini, perusahaan berharap dapat memperluas dampak positif terhadap lingkungan lokal sekaligus membuka ruang asimilasi yang lebih luas bagi warga binaan lainnya.






