Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan terus berupaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Operasi pemadaman dilakukan melalui jalur darat menggunakan sumur bor hingga pemadaman udara lewat metode water bombing yang didukung oleh TNI Angkatan Udara.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa minimnya sumber air di lapangan menjadi kendala utama yang dihadapi petugas saat memadamkan api. Keterbatasan pasokan air tersebut menyulitkan upaya penanganan cepat di titik-titik kebakaran.
"Dari segi teknis insya Allah apa yang diminta oleh teman-teman daerah terpenuhi, namun realitas di lapangan sumber air tetap menjadi kendala ya meskipun tadi sumur bor sudah datang," ujar Raja Juli dalam Media Brief di Gedung Kemenhut, Selasa (1/9/2026).
Pemadaman Kebakaran dan Evakuasi di Apartemen Pavilion Selesai Usai 6,5 Jam

Ia mencontohkan kendala yang terjadi saat penanganan api di pinggir jalan tol wilayah Sumatera Selatan. Di lokasi tersebut, petugas terhambat karena hanya ada satu sumber air yang tersedia, sementara kobaran api terus menjalar semakin jauh dari titik sumber air tersebut.
Dalam evaluasi teknis, Raja Juli menjelaskan bahwa pemadaman oleh Satuan Tugas (Satgas) Darat terbukti jauh lebih efektif dibandingkan pengeboman air dari udara. Satgas Darat tercatat mampu memadamkan api hingga luasan 17,5 hektare, sedangkan water bombing hanya mampu mencakup pemadaman sekitar 2,5 hektare lahan.
Jateng Catat 615 Kebakaran hingga Agustus 2026, Kapasitas Relawan Diperkuat

Meski efektivitas Satgas Darat lebih tinggi, Kemenhut memastikan metode water bombing bersama TNI AU tetap dikerahkan sebagai instrumen pendukung untuk menjangkau sebaran api di lokasi-lokasi yang sulit diakses di Sumatera maupun Kalimantan.






