JAKARTA — Target lifting minyak nasional pada 2027 dinilai berada pada kisaran yang realistis untuk dicapai. Optimisme tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), Bonar Tua Halomoan Marbun, seiring bergulirnya berbagai inisiatif optimalisasi sumur tua dan penanganan kendala teknis di lapangan hulu migas.
Pemerintah mengusulkan target lifting minyak bumi sebesar 612.500 barel per hari (bph) untuk 2027. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan target pada 2026 yang dipatok sebesar 610.000 bph. Sementara itu, target lifting gas bumi pada 2027 ditetapkan sebesar 954.000 barel setara minyak per hari (boepd), mengalami penyesuaian turun dari target 2026 yang sebesar 984.000 boepd.
Bonar menilai bahwa potensi tambahan produksi dari sumur-sumur rakyat serta lapangan tua (brownfield) dapat menjadi penopang signifikan bagi capaian tersebut. Penurunan cadangan pada lapangan migas yang sudah lama beroperasi merupakan fenomena lumrah dalam industri migas global dan bukan berarti potensi hidrokarbon di dalamnya telah habis.
BYD Siapkan Investasi Baterai di Indonesia, Targetkan TKDN 60 Persen pada 2027

Potensi kenaikan lifting ini sejalan dengan pandangan Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya. Menurut Bambang, pemanfaatan sumur minyak masyarakat diperkirakan mampu mendongkrak produksi hingga kisaran 30.000 bph apabila program pemberdayaan dan pengelolaan yang dimulai pada 2026 berjalan optimal pada 2027. Saat ini, produksi dari sumur rakyat yang telah aktif baru tercatat berada di kisaran 2.000 bph.
Guna mengamankan target tersebut, pemerintah bersama DPR terus mendorong sejumlah langkah operasional, mulai dari penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), pelaksanaan workover atau kerja ulang pada sumur-sumur lama, hingga penuntasan berbagai hambatan di lapangan.
GREE Perluas Pasar AC Inverter hingga Segmen Commercial di Indonesia

Upaya penanganan kendala operasional juga mulai memperlihatkan kemajuan di lapangan migas utama, salah satunya di Pertamina Hulu Rokan (PHR). Persoalan teknis, termasuk yang berkaitan dengan pasokan gas di wilayah kerja tersebut, dilaporkan telah tertangani sesuai rencana sehingga diharapkan mampu mendorong fase optimasi produksi pada 2027.






