Berita Viral Terkini

Pasar Saham Indonesia Anjlok Tersapu Badai Geopolitik dan Aksi Jual Asing

Uria KilaPublished 26 Jul 2026 - 02.500 Reads
Bagikan WhatsAppX
Pasar Saham Indonesia Anjlok Tersapu Badai Geopolitik dan Aksi Jual Asing
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Lantai bursa saham domestik dihantam gelombang pelepasan aset berisiko yang luar biasa dahsyat pada sesi pembukaan perdagangan Jumat (24/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak berdaya menahan tekanan gabungan dari dinamika politik global dan kaburnya modal asing dari saham-saham kelas berat. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam setelah bel pembukaan berbunyi, indeks acuan langsung terlempar kembali ke zona 6.100 akibat aksi jual masif yang melanda hampir seluruh lini sektor di pasar modal Indonesia.

Data perdagangan mencatat IHSG merosot tajam 2,13 persen ke posisi 6.180,67 sekitar pukul 09.28 WIB. Suasana muram tercermin jelas dari dominasi warna merah, di mana sebanyak 556 saham terseret melemah, sementara hanya 99 saham yang sanggup bertahan di jalur hijau, dan 310 saham lainnya bergerak mendatar. Aktivitas transaksi berlangsung sangat intensif dengan nilai perputaran uang mencapai Rp4,37 triliun serta volume perdagangan menyentuh 9,79 miliar saham dalam 608,2 ribu kali frekuensi. Sektor keuangan menjadi episentrum pelemahan setelah merosot 1,44 persen, disusul utilitas yang melemah 0,92 persen dan barang konsumsi non-primer turun 0,71 persen. Meski demikian, beberapa sektor masih mencoba melawan arus, seperti properti yang melonjak 5,41 persen, energi naik 1,09 persen, dan industri yang menguat 0,76 persen.

Rontoknya indeks kali ini tak lepas dari tergerusnya kapitalisasi pasar emiten-emiten raksasa. Sektor perbankan pelat merah dan swasta menjadi pengikis utama IHSG, dipimpin oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang memangkas hingga 11,97 poin indeks. Tekanan berat juga datang dari emiten teknologi dan tambang seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menyumbang pelemahan 8,94 poin, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengikis 7,47 poin. Saham jumbo lain yang turut memperberat langkah IHSG meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar -6,65 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar -6,24 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar -5,67 poin, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar -2,95 poin, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar -2,60 poin, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar -2,52 poin, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar -1,93 poin.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Sinyal kepanikan investor sebenarnya sudah membayang sejak sesi perdagangan hari sebelumnya. Pada Kamis (23/7), pemodal asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) mencapai nilai fantastis sekitar Rp920,3 miliar di pasar reguler. Target utama pelepasan dana asing tersebut berfokus pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Tekanan pelepasan modal asing yang terkonsentrasi pada sektor finansial ini pada akhirnya berlanjut dan memicu efek domino yang lebih luas saat pasar dibuka pada Jumat pagi.

Kondisi domestik yang rentan kian diperparah oleh sengatan sentimen negatif dari panggung internasional. Kebijakan proteksionisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara resmi mematok tarif impor baru berkisar 10 hingga 12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagang鈥攖ermasuk Indonesia鈥攎enjadi pukulan telak bagi prospek perdagangan internasional. Di saat yang sama, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kian membara hingga memicu ketakutan baru di pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis Brent melesat 7 persen hingga menembus level US$100,69 per barel, melewati ambang psikologis US$100 untuk pertama kalinya dalam dua bulan belakangan.

Also Read

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Kenaikan drastis harga energi dunia ini memantik kekhawatiran meluas akan kembalinya ancaman inflasi global. Pelaku pasar berekspektasi bahwa bank-bank sentral dunia akan terpaksa mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula. Perpaduan antara kecemasan geopolitik, bayang-bayang perang tarif, serta keluarnya dana asing secara masif membuat para investor di bursa domestik memilih mengambil langkah aman dengan mengamankan dana mereka dan menjauhi instrumen berisiko tinggi.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca