Panggung pasar saham Indonesia menyajikan drama pergerakan harga yang cukup mengejutkan pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Harapan akan berlanjutnya tren positif yang sempat membakar semangat para pelaku pasar di sesi pagi seketika sirna jelang penutupan. Kegagalan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan posisinya menjadi cerminan betapa rentannya pergerakan indeks domestik ketika gelombang pelepasan aset oleh pemodal luar negeri mulai menerjang.
Awalnya, langkah indeks bergerak sangat meyakinkan. Sesi pertama ditandai dengan lonjakan tajam hingga melebihi satu persen, yang mendorong IHSG menembus level tertingginya di posisi 6.454,31. Namun, kondisi berbalik seratus delapan puluh derajat saat memasuki sesi kedua perdagangan. Tekanan jual mendadak membuat indeks terhempas hingga menyentuh titik terendah harian di 6.306,65, sebelum akhirnya memungut sisa kekuatan untuk ditutup melorot 0,30 persen menuju level 6.315,31.
Dinamika bursa yang diwarnai tarik-menarik sengit ini mencatatkan nilai transaksi yang tergolong fantastis, yakni mencapai Rp23,89 triliun. Secara keseluruhan, volume perdagangan membengkak hingga 59,78 miliar lembar saham. Meskipun secara pergerakan emiten masih didominasi oleh 343 saham yang menguat dibandingkan 309 saham yang melemah dan 313 saham yang mengendap tanpa perubahan, bobot saham-saham penekan di sesi kedua jauh lebih berat hingga merobohkan benteng pertahanan IHSG.
Menkeu Purbaya Dorong Penguatan Karantina secara Bertahap di Tengah Defisit Anggaran

Penyebab utama dari patahnya momentum kenaikan IHSG tak lain adalah pembalikan arus modal yang amat drastis dari para investor asing. Pada paruh pertama hari perdagangan, kelompok investor ini sebenarnya masih mencatatkan aksi beli bersih atau net buy senilai Rp164,6 miliar. Namun, dalam kurun waktu beberapa jam di sesi berikutnya, konstelasi berubah total. Gelombang penjualan deras mengubah posisi akhir dana asing menjadi net foreign sell senilai Rp1,224 triliun. Perubahan drastis senilai kurang lebih Rp1,39 triliun dalam waktu satu sesi saja melumat habis seluruh kenaikan yang terkumpul pada pagi hari.
Aksi lepas muatan oleh pemodal internasional tersebut menyasar jajaran saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Saham perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), menjadi yang paling terpukul setelah dilepas asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp484,3 miliar. Di belakangnya, saham emiten petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengekor dengan net sell sebesar Rp367,9 miliar.
Guncangan Geopolitik Timur Tengah Batalkan Penguatan IHSG

Tidak berhenti di situ, saham emiten konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII) juga ikut dilego asing hingga mencatatkan net sell senilai Rp130,3 miliar. Tekanan serupa melanda saham perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) serta perusahaan telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), yang masing-masing melepaskan modal asing sebesar Rp98,5 miliar dan Rp29,2 miliar. Fenomena pembalikan mendadak ini menjadi sinyal penting bagi para investor domestik akan tingginya sensitivitas bursa terhadap manuver pemodal global.






