Dinamika kepemimpinan di tubuh otoritas moneter nasional memicu langkah cepat dari Presiden Prabowo Subianto. Pada Senin, 27 Juli, Kepala Negara memanggil jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan ke Istana Kepresidenan. Pemanggilan para pejabat tinggi sektor finansial ini dilakukan bertepatan dengan hari pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pertemuan yang digelar pada sore hari tersebut menjadi wadah koordinasi pemerintah dalam merespons perubahan formasi di bank sentral. Kehadiran para pimpinan lembaga tinggi negara ini menunjukkan adanya upaya penyelarasan informasi dan langkah strategis antarinstansi di bawah arahan langsung Presiden.
Merespons kekosongan kursi kepemimpinan tersebut, pemerintah langsung menerapkan mekanisme transisi sesuai dengan landasan hukum yang berlaku. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa peralihan tugas di Bank Indonesia berpedoman pada amanat Undang-Undang Bank Indonesia. Berdasarkan aturan tersebut, Destry Damayanti yang menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior secara otomatis ditunjuk menjadi pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia. Dalam kapasitas barunya, Destry diberikan mandat penuh untuk menjalankan seluruh tanggung jawab serta tugas operasional harian bank sentral hingga pemerintah menetapkan dan melantik gubernur definitif yang baru.
Langkah transisi ini bermula dari surat pengunduran diri yang diserahkan secara langsung oleh Perry Warjiyo kepada Presiden Prabowo pada hari Minggu, 26 Juli. Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa Kepala Negara telah menerima keputusan pengunduran diri tersebut. Saat ini, pihak pemerintah tengah memproses tahapan administratif untuk melakukan pemberhentian secara hormat. Melalui Menteri Sekretaris Negara, Presiden juga menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala pengabdian yang telah diberikan oleh Perry selama tujuh tahun masa jabatannya memimpin Bank Indonesia.
Mengintip Harta Haji Isam yang Diisukan Borong 62,2 Persen Saham Bayan

Terkait pemanggilan ke Istana pada Senin sore, kehadiran para pimpinan lembaga keuangan terpantau berlangsung secara bergelombang. Berdasarkan pengamatan di kompleks Istana Kepresidenan, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menjadi pejabat pertama yang tiba pada pukul 15.41 WIB. Menyusul di belakangnya adalah Ketua Lembaga Penjamin Simpanan, Anggito Abimanyu, yang merapat pada pukul 16.03 WIB. Rangkaian kedatangan berlanjut saat pimpinan BPI Danantara, yakni CEO Rosan Roeslani bersama COO Dony Oskaria, memasuki area pertemuan pada pukul 16.19 WIB. Hanya terpaut satu menit, tepatnya pada pukul 16.20 WIB, Destry Damayanti tiba di lokasi untuk melengkapi daftar hadir para pejabat yang dipanggil ke Istana.
Setibanya di area Istana, para tokoh finansial tersebut bersikap irit bicara ketika dihampiri oleh awak media. Sebelum memasuki ruang rapat yang digelar secara tertutup, mereka tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai poin-poin spesifik yang akan dibahas bersama Kepala Negara. Para pimpinan lembaga negara ini secara serempak menyatakan bahwa agenda utama kehadiran mereka di Istana murni untuk memenuhi undangan rapat. Pertemuan tersebut dikonfirmasi sebagai forum koordinasi antarlembaga guna meninjau kondisi terkini di sektor keuangan nasional.
Pertamina Ungkap Potensi Harga Pertamax Dkk Sentuh Rp20 Ribu per Liter

Destry Damayanti secara singkat membenarkan kehadirannya dengan menyatakan bahwa ada undangan yang harus dipenuhi untuk keperluan koordinasi. Pernyataan senada disampaikan oleh Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki. Ia menyebutkan bahwa agenda mereka adalah rapat koordinasi membahas situasi saat ini, dengan menambahkan bahwa pertemuan tersebut turut melibatkan pihak Bank Indonesia. Di sisi lain, ketika dimintai keterangan mengenai apakah pertemuan sore itu memiliki kaitan langsung dengan keputusan mundurnya Perry Warjiyo, Ketua Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu belum bersedia untuk memberikan penjelasan kepada media.






