PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax hingga Pertamina Dex, berpotensi menembus kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Estimasi tersebut muncul seiring belum adanya indikasi penurunan harga minyak mentah di pasar global.
Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyampaikan proyeksi tersebut dalam acara temu media di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9). Menurutnya, pergerakan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar internasional yang saat ini masih dalam tren menguat.
Eko menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memberi tekanan yang jauh lebih berat terhadap pasar energi internasional jika dibandingkan dengan dampak awal perang antara Rusia dan Ukraina. Situasi tersebut diperparah oleh gangguan jalur logistik energi krusial.
Mengintip Harta Haji Isam yang Diisukan Borong 62,2 Persen Saham Bayan

Perang di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz dinilai memicu efek domino yang lebih luas terhadap rantai pasok global. Kondisi ini tidak hanya mengganggu ketersediaan pasokan energi di berbagai negara, tetapi juga memicu ketidakstabilan harga minyak mentah yang hingga kini belum mereda. Eko berharap harga minyak mentah dunia dapat kembali bergerak turun ke kisaran US$60 hingga US$70 per barel seperti sebelum konflik di kawasan tersebut memanas.
Berdasarkan data pasar yang dihimpun Reuters pada Jumat (11/9), harga minyak mentah dunia telah kembali menembus level US$100 per barel dan diperkirakan mengakhiri pekan di atas level tersebut untuk pertama kalinya dalam kurun hampir empat bulan terakhir.
Harga Minyak Melejit, IHSG dan Rupiah Kompak Melemah |Republika Online

Minyak mentah acuan Brent tercatat naik US$1,05 atau 1 persen menjadi US$108,68 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat 95 sen atau 1 persen ke posisi US$103,45 per barel. Sehari sebelumnya, Kamis (10/9), kedua acuan harga tersebut sempat melonjak lebih dari 6 persen dalam sehari.
Secara kumulatif mingguan, harga Brent dan WTI telah menguat hampir 13 persen. Lonjakan mingguan ini tercatat sebagai kenaikan tertinggi sejak pekan yang berakhir pada 17 Juli lalu.






