Pemerintah membidik penghematan biaya listrik nasional hingga Rp73,9 triliun per tahun seiring dimulainya megaproyek energi terbarukan teranyar. Efisiensi tersebut ditopang oleh langkah Presiden Prabowo Subianto yang resmi meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp di Kawasan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, pada Selasa (25/8).
Peluncuran dan peletakan batu pertama (groundbreaking) program berskala masif ini diawali dengan pembangunan 14 titik PLTS yang tersebar di enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, serta Kepulauan Riau. Total kapasitas awal pada proyek perintis tersebut mencapai 5,3 GWp.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan urgensi proyek PLTS ini untuk mengakselerasi target swasembada energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Prabowo menargetkan keseluruhan kapasitas 100 GWp dapat rampung dalam waktu tiga tahun, bahkan ia berharap pembangunannya bisa selesai lebih cepat dalam rentang dua tahun.
Tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai Rp 5.000 Cuma Berlaku sampai Oktober

Tahapan Pembangunan dan Target 2029
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa proyek ini terintegrasi dalam Program Kerja Prioritas Nasional pada Klaster Kemandirian Energi dan Air. Melalui instruksi presiden, batas akhir penyelesaian proyek PLTS 100 GWp ditetapkan paling lambat pada 2029 guna memperkokoh ketahanan energi nasional.
Secara bertahap, pembangunan dibagi ke dalam beberapa fase, yaitu Tahap I sebesar 17 GWp, Tahap II sebesar 18 GWp, serta Tahap III sebesar 30 GWp. Khusus pada tahun 2026, pemerintah menargetkan pemasangan PLTS hingga 30 GWp yang dibarengi dengan penghentian operasional pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 13 GW.
Pekanbaru Bersujud Memohon Hujan, Doakan Keselamatan Petugas Pemadam Api

Langkah ekspansi ini dinilai krusial mengingat pemanfaatan energi matahari di dalam negeri masih sangat minim. Dari total potensi energi surya Indonesia yang diperkirakan menembus 3.294 GWp, kapasitas terpasang hingga April 2026 tercatat baru menyentuh kisaran 1,5 GWp.
Selain memasok listrik bersih, program PLTS 100 GWp diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru. Arus investasi diarahkan pada sektor manufaktur baterai, infrastruktur jaringan transmisi, penguatan rantai pasok industri panel surya (solar PV) lokal, hingga pembukaan lapangan kerja hijau (green jobs) bagi masyarakat.






