Pemerintah Indonesia resmi memulai Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Giga Watt-peak (GWp) melalui agenda peluncuran dan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Gilimanuk, Bali, pada Selasa (25/8). Sebagai langkah awal dari inisiatif skala besar ini, pemerintah membangun 14 proyek PLTS yang tersebar di enam provinsi dengan total kapasitas mencapai sekitar 5,3 GWp.
Pembangunan tahap awal tersebut mencakup sejumlah pembangkit skala besar maupun mikro, antara lain PLTS Gilimanuk berkapasitas 300 MWp, PLTS Terapung Gajah Mungkur sebesar 134 MWp, PLTS Desa Sembur berkapasitas 0,92 MWp, dan PLTS Pulau Rengit dengan kapasitas 0,078 MWp.
Dorongan Kemandirian Energi dan Manfaat Komunitas
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa program PLTS 100 GWp merupakan langkah strategis negara menuju kemandirian serta ketahanan energi nasional. Upaya ini ditopang oleh kesiapan industri manufaktur panel surya serta industri sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) di dalam negeri.
Selain proyek utilitas besar, implementasi di tingkat pulau dan pedesaan langsung menyasar penguatan ekonomi lokal. Di Desa Sembur, suplai listrik tenaga surya dialokasikan untuk operasional rantai pendingin nelayan, menghidupkan fasilitas cold storage berkapasitas 5 ton serta mesin pembuat es berkapasitas 4 ton.
Tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai Rp 5.000 Cuma Berlaku sampai Oktober

Sementara itu, keberadaan PLTS di Pulau Rengit memperpanjang durasi pasokan listrik warga dari sebelumnya rata-rata 12 jam menjadi 24 jam penuh setiap hari. Proyek di Pulau Rengit juga menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik sekitar Rp4.400 per kWh, atau 26 persen lebih rendah dibanding sebelumnya.
Target Tiga Tahun dan Proyeksi Penghematan Anggaran
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mengejar akselerasi bauran energi ini dalam tempo singkat. "Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun," ujar Prabowo.
Peralihan menuju energi surya diproyeksikan memberikan dampak fiskal dan lingkungan yang signifikan. Kementerian ESDM mencatat potensi penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai lebih dari Rp73 triliun per tahun karena biaya operasional PLTS jauh lebih murah dibanding pembangkit bertenaga diesel maupun gas.
Pekanbaru Bersujud Memohon Hujan, Doakan Keselamatan Petugas Pemadam Api

Secara teknis, konsumsi bahan bakar diesel diperkirakan berkurang hingga 6 juta kiloliter per tahun di tingkat nasional, termasuk penghematan 500 ribu kiloliter per tahun khusus di wilayah Bali.
Dari sisi ketenagakerjaan dan lingkungan, program 100 GWp ini diperkirakan menyerap 5,52 juta tenaga kerja kumulatif鈥攖erbagi atas 3,5 juta pekerja di rantai industri panel surya dan BESS serta 2 juta pekerja di sektor konstruksi. Proyek ini juga ditargetkan memangkas emisi karbon hingga 140,16 juta ton CO2 per tahun dengan estimasi nilai ekonomi karbon mencapai Rp6,31 triliun.






