Rektor Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) Jakarta, Prof Dr Masduki Ahmad, memberikan apresiasi dan penilaian tinggi terhadap kualitas akademik skripsi milik Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan atau yang akrab disapa Babe Haikal. Masduki secara terang-terangan menilai bahwa bobot kajian ilmiah yang disajikan dalam skripsi tingkat sarjana tersebut sangat mendalam. Ia bahkan menyebutkan bahwa kualitas skripsi tersebut memiliki bobot yang setara dengan sebuah disertasi untuk tingkat doktor. Penilaian ini disampaikan secara langsung oleh Masduki seusai dirinya memimpin jalannya sidang skripsi Babe Haikal di Kampus UIA, Jakarta, pada hari Jumat (31/7).
Langkah Babe Haikal untuk menempuh program studi Sarjana Hukum (S1) di UIA cukup menarik perhatian publik. Hal ini mengingat yang bersangkutan sebenarnya telah menyandang gelar doktor (S3) serta tengah mengemban amanah penting sebagai pejabat tinggi negara di BPJPH. Meskipun menduduki posisi strategis dan memiliki kualifikasi pendidikan tingkat lanjut, pihak kampus menegaskan bahwa Babe Haikal menjalani seluruh proses pendidikan tinggi tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Selama menempuh pendidikannya di UIA, ia mengikuti seluruh tahapan perkuliahan dan memenuhi semua kewajiban akademik hingga mempertahankan skripsinya tanpa memperoleh perlakuan khusus dari pihak universitas.
Proses sidang skripsi pada Jumat (31/7) tersebut turut disaksikan secara langsung oleh Rektor UIA beserta jajaran pengurus Yayasan UIA. Fokus kajian dalam skripsi yang dipertahankan oleh Babe Haikal tersebut menghadirkan sebuah perspektif baru. Penelitiannya membahas secara perinci mengenai hubungan antara Piagam Madinah dengan Piagam Jakarta, serta keterkaitannya dengan Konstitusi Negara Republik Indonesia. Masduki Ahmad menggarisbawahi bahwa argumentasi yang dibangun dalam riset ini terbilang sangat kuat karena bertumpu pada penelusuran kitab-kitab turats atau literatur klasik Islam, yang selama ini dinilai jarang dikaji oleh generasi muda.
5 Suara Prabowo di KTT BRICS, Spirit Bandung hingga RI Tak Mau Didikte

Daya tarik dan kebaruan materi ilmiah tersebut diakui secara terbuka oleh Masduki Ahmad. Dalam sebuah keterangan tertulis yang dirilis pada Sabtu (1/8/2026), Masduki menyampaikan kekagumannya atas temuan-temuan akademis dalam skripsi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa meskipun dirinya memiliki kebiasaan rutin membaca buku tidak kurang dari tujuh jam setiap harinya, ia tetap menemukan banyak kebaruan dari perspektif yang ditawarkan oleh Babe Haikal. Penelitian ini dianggap berhasil mengungkap sejumlah fakta sejarah yang selama ini tertutupi dan belum banyak dikaji secara mendalam oleh kalangan akademisi.
Lebih lanjut, Masduki yang juga telah lama meneliti Piagam Madinah menjelaskan bahwa dokumen bersejarah tersebut memang turut menginspirasi para pendiri bangsa dalam merumuskan dasar-dasar kehidupan bernegara di Indonesia. Menurutnya, para ulama dan tokoh kemerdekaan pada masa lalu telah berhasil mengadopsi nilai-nilai universal yang ada di dalam Piagam Madinah. Pengadopsian nilai-nilai yang menjunjung tinggi persamaan di hadapan hukum dan hak asasi manusia tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan karakter bangsa Indonesia yang majemuk dan berpegang teguh pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Temuan Terbaru Kasus Pria Ditemukan Tewas di Area GBK

Kajian yang dilakukan oleh Babe Haikal ini juga dinilai memiliki relevansi yang sangat tinggi dengan kondisi sosial dan politik di Indonesia saat ini. Terutama, ketika isu-isu seputar agama dan politik identitas kerap kali mengemuka menjelang momentum pemilihan umum. Penelitian tersebut dinilai mampu memberikan pandangan yang mencerahkan bahwa konsep kebangsaan Indonesia sesungguhnya telah selaras dengan nilai-nilai keislaman. Masduki berharap hasil penelitian ini dapat menjadi referensi akademik yang memadai sekaligus membuka ruang kajian baru mengenai relasi nilai-nilai Islam dan konstitusi dalam kehidupan berbangsa, serta memotivasi peneliti berikutnya untuk memperdalam tema tersebut.






