Pasokan energi global menghadapi guncangan hebat menyusul eskalasi serangan milisi Houthi terhadap infrastruktur strategis Arab Saudi dan jalur pelayaran internasional di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ketegangan ini memicu kekhawatiran krisis energi setelah jalur pipa minyak utama lumpuh dan harga minyak mentah menembus angka psikologis US$100 per barel pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Juli.
Situasi memuncak sejak Jumat ketika serangan pesawat nirawak melumpuhkan jaringan pipa minyak timur-barat sepanjang 1.200 kilometer yang melintasi Semenanjung Arab. Citra satelit memperlihatkan kepulan asap tebal membubung dari sejumlah titik di sepanjang jalur pipa tersebut. Di hari yang sama, kelompok Houthi merebut Pulau Perim yang berposisi strategis di tengah Selat Bab el-Mandeb.
Gangguan pada jalur pasokan membuat pasar minyak dunia berada dalam ketidakpastian tinggi. Sejumlah pedagang dan pembeli minyak Saudi mengungkapkan bahwa cadangan minyak Riyadh di pelabuhan Yanbu, Laut Merah, hanya mencukupi ekspor selama lima hingga tujuh hari apabila fasilitas pipa yang rusak belum pulih. Apabila cadangan tersebut habis, hingga 4 persen dari total pasokan minyak dunia berpotensi terancam hilang dari pasar. Imbasnya langsung terasa di tingkat konsumen global; harga eceran solar di Amerika Serikat mencetak rekor baru pada Minggu (13/9/2026) hingga melewati US$6,2 per galon.
China Mendadak Bangun 'Hong Kong' Baru di Dekat RI Bernilai Rp2.000 T

Eskalasi Serangan Lintas Batas dan Maritim
Serangan balasan dan aksi militer lintas batas terus meluas di kawasan darat maupun laut. Di Arab Saudi, tayangan media pemerintah menunjukkan kerusakan sejumlah rumah dan sebuah masjid di Provinsi Jazan akibat gempuran lintas batas yang diduga dilancarkan Houthi. Selain itu, kelompok tersebut mengeklaim telah menyerang pangkalan militer Saudi di provinsi tetangga.
Keamanan jalur maritim juga memburuk di Selat Hormuz. Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan sebuah kapal dihantam proyektil pada Minggu (13/9/2026) saat melintasi selat tersebut hingga memicu kebakaran hebat dan memaksa seluruh awak dievakuasi. Di perairan lepas pantai terpisah, Iran mengonfirmasi serangan terhadap kapal komersialnya yang mengakibatkan satu orang tewas dan empat awak mengalami luka-luka.
Diplomasi Kawasan Temui Jalan Buntu
Upaya meredakan konflik lewat jalur diplomasi justru mengalami kebuntuan. Pertemuan regional antara negara-negara Arab Teluk dan Iran yang sedianya dihelat di Oman terpaksa ditunda demi kepentingan konsensus, sebagaimana diumumkan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi pada Minggu malam. Sikap keras juga ditunjukkan Bahrain yang secara terbuka menolak berdialog dengan delegasi Iran.
Ratusan Orang Ditangkap terkait Kebakaran Hutan, Motifnya Tak Terduga

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pemerintah Amerika Serikat menyepakati dan memenuhi tuntutan Iran.
Di balik layar, kepemimpinan Arab Saudi terus berupaya mengamankan dukungan militer. Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan telah menghubungi Presiden AS Donald Trump pada Kamis lalu untuk meminta bantuan militer menghadapi Houthi. Namun, komitmen AS saat ini masih sebatas dukungan intelijen. Trump mengonfirmasi komunikasi tersebut pada Sabtu dan menyatakan bahwa milisi Houthi sempat menghubungi Washington agar pemerintah AS tidak ikut campur dalam perang Yaman, setelah sebelumnya AS sempat menghentikan kampanye pengeboman dua bulan pada 2025.






