Pekerjaan sebagai kurir pengantar barang dan makanan di era digital ini menyimpan berbagai tantangan tersendiri di lapangan. Para kurir sering kali harus berhadapan dengan situasi sulit, mulai dari pemotongan ongkos kirim oleh pihak aplikasi hingga sanksi penangguhan akun atau suspend yang dipicu oleh berbagai kendala operasional saat bertugas. Realitas ini dirasakan langsung oleh para pekerja di sektor ini, yang setiap harinya harus berpacu dengan waktu dan target pengantaran demi mengais rezeki.
Nendra, salah seorang kurir yang setiap harinya mengantarkan sekitar 10 hingga 20 pesanan, mengungkapkan bagaimana sistem pemotongan biaya pengiriman cukup menekan pendapatan bersih yang ia bawa pulang. Ia menjelaskan bahwa potongan yang diterimanya mencapai sekitar 15 persen untuk setiap order yang diselesaikan. Sebagai contoh nyata, ketika ia mendapatkan dua order gabungan sekaligus dengan total tarif Rp12.800, pendapatan yang masuk ke kantongnya setelah dipotong 15 persen hanya tersisa sebesar Rp10.880. Potongan ini tentu sangat berdampak pada akumulasi penghasilan harian para kurir yang mengandalkan volume orderan.








