Pangkalan TNI Angkatan Udara mengerahkan sejumlah pesawat udara guna mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan. Dukungan operasional ini difokuskan pada penyediaan armada untuk modifikasi cuaca serta operasi penerbangan guna memadamkan titik api dari udara melalui metode water bombing.
Dalam pelaksanaan penanganan di lapangan, unsur TNI bersinergi secara terpadu bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jajaran Forkopimda, serta instansi terkait lainnya untuk mengendalikan kebakaran lahan.
Sebaran Titik Panas dan Evaluasi FWI di Kalimantan Selatan
Pengerahan armada udara di Kalimantan Selatan dilakukan menyusul pemutakhiran data BMKG pada Minggu (23/8) yang mencatat kemunculan 696 titik panas (hotspot) di provinsi tersebut. Berdasarkan hasil pemantauan, rincian tingkat kerawanan titik panas tersebut mencakup 45 titik pada tingkat rendah, 622 titik pada tingkat sedang, dan 29 titik pada tingkat tinggi.
Laporan dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru menunjukkan hasil evaluasi Fire Weather Index (FWI) untuk wilayah Kalimantan Selatan didominasi oleh indikator tingkat tinggi atau zona merah. Kondisi ini menunjukkan potensi kemudahan terjadinya kebakaran di wilayah tersebut sangat signifikan.
BNPB Minta Negara Tetangga Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla Kalimantan

Data koordinat dan lokasi administratif BMKG mencatat sebaran titik panas utama berada di sejumlah wilayah, meliputi Kabupaten Banjar sebanyak 127 titik, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebanyak 115 titik, dan Kabupaten Tapin sebanyak 104 titik. Sebaran hotspot lainnya terpantau di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak 65 titik, Kabupaten Tanah Laut sebanyak 58 titik, Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebanyak 48 titik, serta Kabupaten Kotabaru sebanyak 46 titik.
Pelaksanaan Water Bombing dan Modifikasi Cuaca TNI AU
Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita menjelaskan bahwa pelibatan armada TNI AU mencakup penyediaan pesawat untuk modifikasi cuaca serta dukungan operasi penerbangan pemadaman dari udara dengan metode water bombing. Pengerahan metode ini bertujuan mempercepat penanganan titik api yang terpantau di wilayah rawan dan memfasilitasi upaya pembasahan lahan.
Kerja sama lintas instansi yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, dan dinas terkait di daerah terus diperkuat untuk mempercepat pemadaman titik api baik melalui pemantauan darat maupun intervensi armada udara secara tepat sasaran.
Bulog Pastikan Stok Beras untuk Korban Gempa di NTT Aman Mencapai 93.782 Ton

Penanganan Titik Api di Palembang dan Ogan Komering Ilir
Selain operasi di Kalimantan Selatan, penanganan karhutla melalui metode water bombing juga dilakukan oleh jajaran Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) untuk mengatasi titik api di wilayah Palembang, Sumatera Selatan.
Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana menjelaskan bahwa operasi pemadaman di Sumatera Selatan bermula saat petugas melakukan patroli udara dan menemukan sejumlah titik api di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Menindaklanjuti temuan tersebut, helikopter milik TNI AU dikerahkan untuk melakukan pemadaman dari udara.
TNI AU terus menyiagakan helikopter tersebut dan berkolaborasi bersama BNPB, BPBD, BMKG, Forkopimda, serta seluruh instansi terkait di daerah hingga penanganan karhutla selesai dilakukan secara menyeluruh.






