Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyoroti persoalan disparitas harga pangan antarwilayah yang hingga kini masih lebar di Indonesia. Di kawasan timur, harga sejumlah komoditas pangan pokok tercatat melonjak sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah barat.
Zulhas mencontohkan harga telur di Papua dan Maluku yang dapat menembus Rp60.000 per kilogram (kg). Angka tersebut mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga telur di DKI Jakarta yang berada di kisaran Rp28.000 per kg.
Pernyataan tersebut diungkapkan Zulhas saat menghadiri peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, pada Jumat (4/9). Menurutnya, perbedaan harga antarwilayah ini memicu ketimpangan nyata karena rata-rata pendapatan masyarakat di Indonesia bagian timur tergolong lebih rendah.
Zulhas Ungkap RI Masih Impor 1 Juta Ekor Sapi per Tahun

Kondisi harga pangan yang mahal di tengah pendapatan yang terbatas dikhawatirkan dapat memperlebar jurang kesejahteraan serta memperburuk persoalan gizi dan malnutrisi pada masyarakat setempat.
Di samping ketimpangan harga, Zulhas turut mengingatkan risiko jangka panjang jika Indonesia terus bergantung pada impor pangan tanpa memperkuat produksi lokal. Ketergantungan tersebut dinilai dapat menggeser pola konsumsi pangan masyarakat secara perlahan, dari beras menuju olahan gandum atau roti dalam rentang 50 tahun ke depan.
Dorong Kemandirian Pangan Lewat Kawasan Wanam
Guna menuntaskan persoalan distribusi dan harga, Presiden Prabowo telah menginstruksikan jajaran pemerintah untuk merealisasikan swasembada pangan berbasis kewilayahan, khususnya agar Papua mampu mandiri memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Hari Pelanggan Nasional 2026, Bank Mega Usung Tema 'Bank Mega is Your Second Home

Sebagai langkah konkret, pemerintah saat ini tengah mengembangkan kawasan Wanam di Merauke, Papua, sebagai lumbung pangan nasional (food estate). Fasilitas ini dirancang untuk menopang ketahanan pangan di wilayah timur Indonesia.
Produksi beras dari lumbung pangan Wanam diproyeksikan tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan pangan seluruh wilayah Papua secara mandiri, melainkan juga menghasilkan surplus untuk memasok kebutuhan beras di Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT).






