Perkembangan industri otomotif di Indonesia mencakup berbagai dinamika, mulai dari loyalitas konsumen terhadap merek lama, kesiapan pengelolaan dampak lingkungan dari elektrifikasi kendaraan, hingga kontribusi manufaktur dalam negeri terhadap rantai pasok global.
Isu mengenai ketahanan dan kenyamanan mobil Proton, dorongan pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik oleh Kementerian Perindustrian, serta realisasi ekspor kendaraan oleh pabrikan lokal menjadi perhatian penting dalam perkembangan sektor transportasi darat saat ini.
Mengapa Pemilik Mobil Proton Masih Memilih Bertahan di Indonesia?
Meskipun diler resmi dan bengkel resmi Proton sudah tidak beroperasi lagi di Indonesia, banyak pemilik setianya yang tetap enggan berpaling ke merek kendaraan lain. Keputusan para pengguna untuk mempertahankan kendaraan buatan pabrikan tersebut didasari oleh kualitas kenyamanan serta stabilitas saat dikendarai.
Karakter berkendara yang stabil dan solid pada mobil Proton ditopang oleh spesifikasi konstruksi bodinya. Kendaraan ini menggunakan pelat bodi dengan ketebalan berkisar antara 1 hingga 1,2 milimeter. Selain rancang bangun pelat bodi yang kokoh, kenyamanan berkendara juga didukung oleh sentuhan setelan suspensi Lotus. Perpaduan rancangan teknis tersebut memberikan rasa berkendara yang mantap dan menjadi alasan utama mengapa pemiliknya tetap mempertahankan unit Proton mereka hingga saat ini.
9 Taman Nasional Ditutup Sementara untuk Cegah Risiko Kebakaran Hutan

Bagaimana Pemilik Merawat Mobil Proton Tanpa Bengkel Resmi?
Ketiadaan jaringan bengkel resmi Proton di Indonesia mendorong pemilik mengandalkan bengkel independen dan spesialis untuk menjaga performa kendaraan mereka agar tetap prima. Dukungan layanan teknis menjadi faktor krusial agar mobil-mobil tersebut dapat terus beroperasi secara aman di jalan raya.
Salah satu bengkel yang menjadi rujukan perawatan adalah Bengkel Proton Center yang beroperasi di kawasan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Kehadiran bengkel spesialis seperti ini membantu melayani proses servis dan perbaikan mobil Proton bagi para pengguna yang membutuhkan penanganan teknis khusus setelah agen pemegang merek tidak lagi menyediakan fasilitas purnajual resmi di tanah air.
Mengapa Kementerian Perindustrian Menyoroti Kesiapan Daur Ulang Baterai EV?
Seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik di berbagai belahan dunia, isu mengenai pengelolaan limbah komponen baterai menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengingatkan pentingnya antisipasi serta penyiapan strategi tata kelola daur ulang limbah baterai kendaraan listrik (EV) sejak dini.
Proyeksi IHSG Masih Solid di Tengah Tekanan Suku Bunga AS

Langkah antisipasi tata kelola limbah ini dinilai sangat penting mengingat proyeksi peningkatan volume limbah baterai secara global. Berdasarkan proyeksi yang ada, volume limbah baterai di tingkat global diperkirakan dapat menembus angka lebih dari 20 juta metrik ton pada tahun 2040 mendatang. Oleh karena itu, perumusan strategi daur ulang baterai diperlukan guna memastikan ekosistem kendaraan ramah lingkungan tidak menimbulkan persoalan limbah baru di masa depan.
Bagaimana Kontribusi Ekspor PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia?
Selain persoalan perawatan unit kendaraan konvensional dan tata kelola baterai kendaraan listrik, sektor manufaktur roda empat di Indonesia juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap pasar internasional.
PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia mencatatkan kinerja pengapalan yang signifikan pada tahun 2026. Dari total volume kendaraan yang diproduksi di fasilitas manufaktur mereka, tercatat sebanyak 66 persen berhasil dikapalkan ke pasar internasional. Capaian ini menegaskan peran strategis fasilitas perakitan otomotif di Indonesia sebagai basis ekspor kendaraan ke berbagai negara tujuan.






