Bagaimana sebenarnya nasib proyek transportasi modern di Ibu Kota Nusantara setelah masa uji coba selesai? Banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah teknologi canggih ini siap digunakan untuk mendukung mobilitas di ibu kota baru, atau justru menghadapi kendala teknis yang serius. Pertanyaan ini terjawab seiring dengan selesainya evaluasi terhadap uji coba trem otonom ART di IKN Nusantara yang dilakukan oleh otoritas terkait.
Proyek uji coba trem otonom ART di IKN Nusantara ini awalnya berjalan dengan penuh harapan. Kereta Autonomous Rail Transit (ART) tersebut tiba di kawasan ibu kota baru dan segera dipersiapkan untuk uji jalan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat menyatakan bahwa uji coba akan segera dilakukan setelah kedatangan sarana tersebut. Langkah awal pengujian fisik kemudian dilaksanakan oleh tim penguji dari Balai Penguji Perkeretaapian pada hari Senin, 5 Agustus 2024. Landasan hukum bagi pelaksanaan uji coba ini tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur tentang dukungan percepatan penyelenggaraan uji coba dan unjuk kerja atau Proof of Concept (PoC) trem otonom di IKN.
Secara teknologi, trem otonom ini dirancang ramah lingkungan karena beroperasi menggunakan daya baterai. Pemanfaatan energi baterai ini diharapkan mampu meminimalisir emisi gas rumah kaca serta menekan penggunaan energi fosil di kawasan IKN yang mengusung konsep kota hijau. Namun, sebagai teknologi baru tanpa rel, keandalan sistem kemudi otomatisnya tetap harus diuji secara ketat di lapangan sebelum benar-benar dioperasikan untuk publik.
Cegah Penyalahgunaan, Tokoh Pers Usul 10 Pagar Pelindung di RUU Perampasan Aset

Tanggung jawab untuk mengevaluasi kelayakan serta kesesuaian trem otonom ini berada di tangan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Setelah proses uji coba berlangsung selama kurang lebih dua bulan, OIKN melakukan penilaian menyeluruh terhadap performa kendaraan tersebut. Hasil evaluasi yang diungkapkan oleh Deputi bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, Mohammed Ali Berawi, menunjukkan bahwa sistem otonom (autonomous system) dari kereta tanpa rel ini belum dapat berfungsi dengan baik di lingkungan IKN.
Karena sistem otonom tersebut dinilai belum memenuhi standar fungsi yang diharapkan, langkah tindak lanjut segera diambil sesuai dengan kesepakatan awal. Nota kesepahaman (MoU) untuk uji coba ini sebelumnya ditandatangani oleh OIKN dengan pihak vendor, yaitu Norinco, dengan partisipasi dari CRRC Qingdao Sifang. Berdasarkan ketentuan di dalam MoU untuk program PoC tersebut, OIKN akan meminta pihak Norinco untuk mengembalikan rangkaian kereta (trainset) yang ada di IKN kembali ke China apabila sistemnya tidak dapat beroperasi dengan baik.
Polisi Periksa EO dan MC Terkait Promosi Miras Berkedok Tantangan Hafalan Al-Qur'an

Meski proyek uji coba trem otonom ART di IKN Nusantara ini tidak berjalan mulus dan keretanya harus dikembalikan, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai potensi kerugian anggaran negara. Kementerian Perhubungan memastikan bahwa negara tidak akan mengalami kerugian finansial akibat penghentian proyek ini. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, Budi Rahardjo, menegaskan bahwa seluruh pembiayaan untuk pelaksanaan uji coba sepenuhnya ditanggung oleh vendor ART, bukan oleh anggaran negara. Dengan demikian, proses pengujian teknologi transportasi baru ini murni menjadi investasi uji coba dari pihak penyedia teknologi tanpa membebani keuangan publik.






