Kekhawatiran akan bencana lanjutan meningkat di sepanjang perbatasan Nepal dan Daerah Otonomi Tibet, Tiongkok, setelah otoritas kebencanaan mendeteksi lonjakan debit air sungai di tengah operasi penanganan darurat. Bencana besar yang melanda kawasan perbatasan tersebut sejauh ini telah menelan sedikitnya 691 korban jiwa terkonfirmasi, sementara hampir 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang berdasarkan data resmi pemerintah kedua negara.
Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal (NDRRMA) mengeluarkan peringatan resmi pada pukul 07.20 waktu setempat menyusul kenaikan signifikan aliran banjir di Sungai Bhotekoshi, Distrik Rasuwa. NDRRMA meminta seluruh personel operasi pencarian, penyelamatan, dan bantuan kemanusiaan, serta warga yang berada di area tepi sungai di wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Chitwan, untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap potensi luapan air mendadak.
Kondisi di kawasan terdampak diperparah oleh faktor cuaca. Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal menetapkan peringatan cuaca level kuning yang berlaku hingga Senin. Hujan berintensitas tinggi diprediksi masih akan terus mengguyur wilayah pegunungan tersebut, memicu ancaman peningkatan volume air serta potensi longsor susulan.
Tembus Medan Terjal, Kapolres Manggarai Timur Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Gempa

Rangkaian bencana lintas negara ini bermula pada Rabu pagi. Berdasarkan laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), peristiwa tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser di wilayah perbatasan yang kemudian mengirimkan gelombang material es, bebatuan, dan air dalam jumlah besar ke kawasan lembah dan permukiman di hilir.
Di wilayah Tibet, media penyiaran negara Tiongkok, CCTV, melaporkan sebanyak 546 orang dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 261 korban hilang merupakan warga negara asing yang berasal dari 23 negara berbeda.
Gempa Susulan NTT Tembus 10.232 Kali, BMKG Aktivitas Mulai Menurun

Daftar warga negara asing yang dicatat hilang di Tibet meliputi 104 warga Nepal, 49 warga India, 33 warga Latvia, 18 warga Amerika Serikat, 6 warga Kanada, 6 warga Australia, 4 warga Afrika Selatan, 3 warga Malaysia, 3 warga Jerman, 3 warga Rusia, dan 2 warga Selandia Baru. Warga asal Irlandia, Estonia, Prancis, dan Belanda masing-masing dilaporkan hilang sebanyak 2 orang, disusul Finlandia, Lituania, Portugal, Ukraina, Spanyol, dan Hungaria masing-masing 1 orang.
Terdapat perbedaan pencatatan mengenai korban asal Inggris. Laporan CCTV mencatat 15 warga negara Inggris masuk dalam daftar hilang di kawasan Tibet, sedangkan otoritas Nepal sebelumnya mendata 33 warga negara Inggris hilang saat melakukan perjalanan darat melintasi perbatasan menuju wilayah Tibet.






