Lonjakan suhu ekstrem dan kebakaran hutan melanda berbagai belahan dunia dalam beberapa pekan terakhir, memicu penurunan drastis kualitas udara dari kawasan Eropa, Asia Timur, hingga sejumlah wilayah di Indonesia.
Di tingkat domestik, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat mempertimbangkan opsi meliburkan jenjang sekolah TK, SD, dan SMP setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Dampak karhutla juga terasa di kawasan delineasi IKN, tepatnya di Wonotirto, yang mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di level 162 atau kategori tidak sehat. Sementara itu, indeks kualitas udara Jakarta sempat menduduki peringkat ke-8 terburuk di dunia dengan AQI 149 pada Sabtu (29/8/2026), sebelum berada di angka 127 pada Rabu (2/9/2026) pagi. Di Pekanbaru, kondisi udara mulai membaik pascaturunnya hujan sehingga status karhutla diturunkan menjadi siaga darurat seiring nihilnya titik api.
Kondisi serupa meluas secara internasional. Gelombang panas di Korea Selatan mencapai 37 derajat Celsius hingga memicu 12 korban jiwa. Di Eropa, Belanda mencatatkan musim panas paling terik sejak 1901 dengan rata-rata suhu 19,3 derajat Celsius, menggeser rekor 2018. Suhu di Sardinia dan Sisilia diproyeksikan menyentuh 45 derajat Celsius hingga puncak lokal 48 derajat Celsius, sedangkan cuaca panas dan kering di West Midlands, Inggris, memicu kebakaran yang merusak setidaknya enam properti dan memaksa evakuasi warga.
Keliru, Erupsi Anak Krakatau Picu Darurat Tsunami Selat Sunda

Peringatan WMO dan Risiko Kesehatan
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa eskalasi polusi dari kombinasi karhutla dan gelombang panas secara nyata mengancam upaya perbaikan kualitas udara, kesehatan manusia, serta kestabilan ekosistem global. Berdasarkan data buletin WMO, frekuensi insiden asap kebakaran ekstrem di seluruh dunia telah melonjak hingga tiga kali lipat sejak era 1990-an.
Paparan asap kebakaran diestimasi menyumbang hampir 100.000 kematian tambahan per tahun selama rentang 2010 hingga 2018. WMO juga menyoroti kelemahan model risiko konvensional yang berpotensi meremehkan angka kematian akibat kebakaran hutan hingga 93 persen karena belum memperhitungkan tingginya toksisitas partikel halus (PM2.5) dari pembakaran vegetasi dibanding sumber polusi lain.
51.591 Rumah Terdampak Gempa M7,7 NTT Selesai Diverifikasi BNPB

Selain partikel asap, gelombang panas mempercepat pembentukan ozon berbahaya di permukaan tanah melalui perpaduan suhu tinggi, radiasi sinar matahari terik, dan pergerakan udara yang stagnan. Akumulasi ozon ini diproyeksikan memicu puluhan ribu kematian dini tambahan di masa depan. Menghadapi eskalasi krisis tersebut, WMO mendesak peningkatan pemantauan terhadap berbagai polutan atmosfer berbahaya, termasuk karbon hitam dan mikroplastik yang melayang di udara.






