Di sebuah tenda pengungsian di kota Bidur, Nepal, duka mendalam menyelimuti para penyintas banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan Himalaya pada Rabu (26/8). Tiga perempuan duduk bersama meratapi nasib kehilangan anak, suami, serta rumah mereka yang tersapu material air dan lumpur.
Salah satu kisah pilu datang dari Murali Maiya Tamang (60). Perempuan yang sebelumnya kehilangan suaminya dalam gempa bumi besar Nepal pada 2015 itu ditemukan selamat dalam kondisi tergantung di dahan pohon setelah rumahnya rata dengan tanah. Namun, keselamatan fisiknya menyisakan kepedihan mendalam karena putra tunggalnya hilang tersapu arus banjir.
Kepedihan serupa dialami oleh Sangke Dolma Tamang (61), warga Mailung. Sangke menceritakan bagaimana suaminya terlepas dari genggamannya dan lenyap ditelan arus deras. Ia sempat bertahan hidup semalaman di tempat yang lebih tinggi hingga akhirnya helikopter militer mengevakuasinya ke barak yang aman, sementara putranya hingga kini masih belum ditemukan.
Amankan Laga Persib vs Persija, Polresta Karawang Sekat Jalur Konvoi ke Jakarta

Bencana ini bermula ketika longsoran es dan batu diduga menyapu aliran sungai di Pegunungan Himalaya. Luapan air berlangsung sangat cepat, salah satunya di Sungai Trishuli yang tercatat naik hingga sembilan meter hanya dalam rentang 30 menit.
Hingga hari kedua pascabencana, otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 579 orang tewas dan lebih dari 1.900 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Di barak penampungan, banyak keluarga menanti kabar nasib kerabat laki-laki mereka yang bekerja di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang Sungai Bhote Koshi, menyusul laporan puluhan pekerja yang terjebak di dalam terowongan tertutup endapan lumpur.
Proses pencarian dan penyelamatan menghadapi tantangan medan yang berat. Kawasan terdampak parah seperti Distrik Rasuwa hanya bisa dijangkau melalui jalur udara setelah akses darat terputus total. Sebanyak 15 armada helikopter dikerahkan ke lokasi-lokasi terisolasi.
Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Kepulauan Seribu Sabtu Pagi, tidak Berpotensi Tsunami

Juru Bicara Tentara Nepal Brigjen Raja Ram Basnet menegaskan operasi evakuasi udara terus digencarkan secara berkelanjutan. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Nepal Sudan Gurung menyatakan pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada guna melacak keberadaan para korban yang hilang, baik warga lokal maupun warga negara asing, termasuk 34 warga negara Australia yang dilaporkan hilang di wilayah perbatasan Nepal-Tibet.
Dampak bencana luapan air dan longsor ini juga melintasi batas negara. Pada Kamis (27/8), Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang meninjau langsung kawasan terdampak di Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, wilayah Tibet.






