Penyanyi pop Ariana Grande secara resmi menempuh jalur hukum untuk menindak tegas aksi pencurian karya kreatifnya. Melalui tim kuasa hukumnya, Grande melayangkan gugatan terhadap dua individu yang identitasnya belum diketahui, atau yang dalam dokumen hukum disebut sebagai John Does. Kedua pihak tersebut diduga kuat menjadi dalang di balik peretasan berkas-berkas pribadi milik sejumlah kolaborator sang penyanyi. Tindakan pembobolan ini berakibat fatal karena memicu kebocoran serta penjualan berbagai materi musik dan karya lain yang sejatinya belum pernah dirilis ke ruang publik.
Dalam dokumen gugatan yang diserahkan pada Senin, 27 Juli, terungkap bahwa para pelaku melancarkan aksinya dengan cara menyusup ke akun-akun digital milik para produser dan fotografer yang selama ini bekerja sama dengan Grande. Hasil dari penyusupan ilegal ini berujung pada eksploitasi, penyebaran, serta pencurian karya seni. Para peretas tidak sekadar membocorkan karya tersebut secara cuma-cuma, melainkan mencari keuntungan finansial yang signifikan. Mereka diketahui memasarkan data dan konten hasil curian tersebut melalui jaringan pasar gelap internet atau dark web, dan mematoknya dengan harga yang fantastis.
Materi yang berhasil digondol oleh para peretas mencakup berbagai aset penting dari proses kreatif sang musisi. Dokumen pengadilan merinci bahwa aset yang dicuri meliputi lagu-lagu yang belum diluncurkan, koleksi foto, hingga rekaman audio dan video. Seluruh materi tersebut direkam saat proses kreatif berlangsung dan sama sekali tidak ditujukan untuk dikonsumsi oleh khalayak umum. Melalui langkah hukum ini, tim pengacara Grande berambisi penuh untuk membongkar kedok dan mengetahui identitas asli dari para pelaku peretasan tersebut.
Laga Liverpool vs Fulham Berakhir Imbang, The Reds Gagal Maksimalkan Dominasi

Tingkat keparahan dari aksi pencurian ini tergambar jelas dalam pernyataan resmi di berkas gugatan. Pihak Grande memaparkan bahwa sepanjang tahun 2023 saja, terdapat 45 lagu belum rilis milik sang penyanyi yang telah diretas, dicuri, dan disebarluaskan oleh para tergugat. Lebih jauh lagi, dokumen tersebut mencatat bahwa rentetan insiden kebocoran ini bukanlah hal yang baru. Terhitung sejak Grande memulai debutnya di kancah musik pada tahun 2011, telah terjadi ratusan kasus kebocoran karya serupa yang dinilai sangat merugikan.
Seorang sumber yang memiliki kedekatan dengan Ariana Grande membeberkan alasan utama di balik keputusan sang penyanyi untuk membawa kasus ini ke meja hijau. Langkah ini sengaja diambil guna menciptakan efek jera yang nyata terhadap berbagai bentuk kejahatan siber di masa mendatang. Sumber tersebut menegaskan bahwa gugatan ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi Grande secara pribadi, tetapi juga untuk membela banyak seniman lain yang kerap menjadi korban pelanggaran privasi dan pencurian karya kreatif serupa.
Menurut sumber yang sama, setiap seniman memiliki hak mutlak untuk mengontrol kapan dan bagaimana karya mereka disajikan kepada dunia. Tindakan pencurian serta penyebaran karya secara ilegal dinilai telah merusak hak fundamental tersebut, sehingga pelakunya tidak boleh diberikan toleransi sedikit pun oleh hukum.
Mengapa Mobil Listrik Bisa Mati Mendadak di Rel Kereta Api Ini Penjelasan Pakar

Kemarahan Grande terhadap pihak-pihak yang membocorkan karyanya sejatinya sudah pernah diungkapkan secara terbuka. Dua tahun silam, ketika hadir sebagai bintang tamu dalam program Zach Sang Show untuk mempromosikan album Eternal Sunshine, ia memberikan peringatan keras. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti secara khusus kebocoran lagu berjudul "Fantasize" yang terjadi pada tahun 2023 hingga akhirnya menjadi viral di platform media sosial TikTok.
Kala itu, Grande menyampaikan kekesalannya dengan menyebut bahwa sesi studio yang dilakukannya sebelum berangkat untuk proyek Wicked tiba-tiba tersebar luas di TikTok. Ia secara blak-blakan menyindir para pelaku dengan ancaman akan bertemu di penjara. Ia juga mengklarifikasi bahwa lagu-lagu yang bocor tersebut sebenarnya ditulis untuk sebuah acara televisi dan bukan untuk dirinya sendiri. Mengakhiri pernyataannya saat itu, Grande dengan tegas melabeli para pembocor karyanya sebagai bajak laut dan penjahat yang melakukan tindakan ilegal.






