Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan mulai berdampak pada operasional transportasi udara. Maskapai dan otoritas penerbangan menerapkan prosedur mitigasi khusus guna memastikan keselamatan penerbangan di rute-rute yang terdampak sebaran asap pekat.
Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agustinus Budi Hartono, menjelaskan bahwa operasional penerbangan menuju kawasan terdampak saat ini sangat bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang di lokasi tujuan.
Apabila pesawat sudah terlanjur lepas landas namun tidak memungkinkan mendarat di bandara tujuan akibat terhalang asap tebal, pilot telah dibekali perhitungan operasional untuk melakukan pengalihan pendaratan (divert) ke bandara terdekat atau kembali ke bandara asal (return to base).
BRI Consumer Expo 2026 di Medan, Saatnya Wujudkan Rumah-Liburan Impian

Kondisi tersebut seperti yang diantisipasi pada penerbangan ke Pontianak. Jika bandara setempat ditutup sementara akibat terdampak asap karhutla, penerbangan menuju wilayah tersebut tidak akan diberangkatkan, atau dicarikan bandara alternatif bagi armada yang telah berada di udara.
Upaya Pemadaman Karhutla di Lahan Gambut
Berdasarkan data penanganan karhutla di Kalimantan Barat, luas lahan yang terbakar diestimasikan mencapai 802,17 hektare. Dari luasan tersebut, tim gabungan telah berhasil memadamkan 429,90 hektare, sementara sekitar 372,27 hektare lainnya masih dalam proses penanganan intensif.
Konservasi Mangrove Simanja Pulihkan Ekosistem Pesisir

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa operasi darat menjadi tumpuan utama dalam menuntaskan sisa kebakaran yang masih aktif. Penanganan karhutla memiliki tantangan tersendiri, terutama pada ekosistem lahan gambut.
Menurut Suharyanto, pemadaman di area gambut tidak cukup hanya mengandalkan pengeboman air (water bombing) dari udara karena bara dan lidah api kerap bertahan di bawah lapisan tanah. Oleh karena itu, personel Satuan Tugas (Satgas) Darat terus diperkuat di lapangan guna menyisir dan memastikan titik api maupun sisa bara di kedalaman gambut benar-benar padam.






