Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kini melintasi batas negara dan berdampak langsung pada wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi penurunan kualitas udara ini memaksa otoritas setempat mengambil tindakan cepat demi menjaga kesehatan para siswa. Dampak dari sebaran asap lintas batas ini memicu kebijakan penutupan aktivitas belajar mengajar secara tatap muka di beberapa wilayah terdampak.
Kebakaran hutan yang menjadi sumber asap ini tersebar di sejumlah titik di Kalimantan Barat, termasuk kawasan Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Landak. Secara geografis, Indonesia dan Malaysia memang berbagi perbatasan darat di Pulau Kalimantan, di mana Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan Sarawak serta Sabah. Sepanjang paruh pertama tahun ini, sekitar 107.000 hektare lahan dan hutan di Indonesia telah hangus terbakar dengan total lebih dari 116.000 titik panas terdeteksi sejak Januari. Khusus di Kalimantan Barat, ribuan titik panas terdeteksi hingga 10 Agustus, termasuk ratusan titik yang masuk dalam kategori tingkat tinggi.
Imbas dari pergerakan asap ini sangat dirasakan di wilayah Sarawak. Departemen Pendidikan Sarawak mengeluarkan perintah penutupan sekolah sementara selama dua hari, terhitung sejak 20 hingga 21 Agustus 2026. Keputusan penutupan ini berlaku untuk lembaga pendidikan di wilayah Kuching, Padawan, Serian, Samarahan, Bau, Lundu, Sri Aman, dan Lubok Antu. Langkah darurat ini diambil setelah indeks pencemaran udara menunjukkan angka yang mengkhawatirkan bagi kesehatan anak-anak.
Ayah Kandung Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Anak di Merauke

Berdasarkan data pemantauan pada 20 Agustus 2026 pukul 13.00 waktu setempat, wilayah Serian mencatat Indeks Pencemar Udara atau Air Pollutant Index (API) tertinggi mencapai angka 193. Wilayah Kuching menyusul dengan angka indeks 190, sementara Samarahan berada di angka 173. Merujuk pada dokumen National Haze Action Plan, tingkat pencemaran ini masih berada sedikit di bawah ambang batas 200 yang dikategorikan sebagai kondisi sangat tidak sehat. Meski belum melampaui batas tersebut, langkah antisipasi tetap diambil karena risiko paparan asap yang terus membayangi.
Penutupan sekolah pada pertengahan Agustus ini tercatat sebagai kejadian kedua dalam kurun waktu dua pekan terakhir di Sarawak yang dipicu oleh masalah kabut asap karhutla. Pada pekan sebelumnya, sekolah-sekolah di Divisi Serian bahkan sempat ditutup selama tiga hari berturut-turut setelah angka API di wilayah tersebut menembus batas 200.
Keluhan Aa Juju Terhadap Hyundai Ioniq 5 dan Klarifikasi Resmi HMID

Sebagai langkah mitigasi agar proses pendidikan tidak terhenti total selama penutupan dua hari ini, kegiatan belajar mengajar dialihkan ke metode pembelajaran dari rumah atau Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR). Otoritas pendidikan dan lingkungan hidup di kedua belah negara terus memantau pergerakan arah angin serta perkembangan titik panas di lapangan guna menentukan langkah penanganan selanjutnya demi menekan dampak buruk kabut asap lintas batas ini.






