Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat diterapkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kendala tersebut terjadi karena ketiadaan potensi awan hujan di atmosfer kedua provinsi tersebut.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tidak ditemukan bibit awan di atas wilayah Kalteng maupun Kalsel sehingga teknologi penyemaian garam tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa intervensi modifikasi cuaca sejatinya ditujukan untuk memicu hujan agar membantu proses pendinginan di area yang terbakar. Operasi penyemaian garam terbaru telah digelar pada Jumat (28/8/2026) pukul 16.00 WIB di wilayah yang memenuhi kriteria pertumbuhan awan.
Prabowo Ingatkan Kebakaran Hutan Jangan Sampai ke Zona Inti IKN

Menurut Berton, operasi modifikasi cuaca yang telah berjalan di sejumlah wilayah lain berhasil mendatangkan hujan di beberapa kabupaten. Namun, keterbatasan kondisi atmosfer di Kalteng dan Kalsel membuat metode ini belum bisa dimanfaatkan secara merata di seluruh daerah terdampak.
Titik Panas Meningkat, Titik Api Menurun
Kondisi kekeringan di kawasan terdampak karhutla saat ini terpantau mengalami peningkatan. BNPB mencatat adanya kenaikan jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah yang menjadi indikator menguatnya tingkat kekeringan lahan.
Kendati titik panas meningkat, data titik api (fire spot) di lapangan justru menunjukkan tren penurunan. Penurunan ini menandakan bahwa berbagai upaya penahanan dan pemadaman karhutla yang dikerahkan tim gabungan telah mulai membuahkan hasil.
Malaysia Cabut Darurat Kabut Asap di Sarawak Terkait Karhutla

Selain dinamika di darat, BNPB memantau sebaran asap dan polutan akibat karhutla. Data polutan dari BMKG menunjukkan bahwa pergerakan angin membawa polutan dari wilayah Kalimantan melintasi Laut Cina Selatan hingga mencapai Sarawak, Malaysia.
BNPB bersama instansi terkait terus melanjutkan penanganan darurat karhutla di lapangan sembari terus memonitor potensi pertumbuhan awan hujan bersama BMKG.






