Suara dentuman misterius yang terdengar pada Sabtu (5/9) mulai tengah malam hingga waktu subuh sempat memicu tanda tanya warga di kawasan Bandung Raya, Jawa Barat. Setelah ditelusuri, sumber suara tersebut terkonfirmasi berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Fenomena ini memicu keheranan publik karena wilayah yang berada jauh seperti Bandung dapat mendengar suara tersebut, sementara daerah yang posisinya relatif lebih dekat dengan Selat Sunda, seperti Jakarta, Banten, dan Bogor, justru tidak mendengarnya atau hanya menangkap suara yang sangat lemah.
Pelepasan Energi Akustik dari Letusan Tipe Fountain
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa letusan bertipe fountain鈥攕emburan lava pijar dan gas鈥攎elepaskan energi akustik dalam jumlah yang sangat besar. Rambatan energi akustik berdaya tinggi inilah yang mampu bergerak melintasi jarak hingga ratusan kilometer.
Karakteristik semacam ini bukan peristiwa pertama. Pada 10 April 2020, dentuman serupa terdengar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Saat itu, PVMBG mencocokkan waktu kejadian dan menemukan kesesuaian dengan dua kali letusan Gunung Anak Krakatau pada pukul 21.58 WIB dan 22.35 WIB. Perambatan suara berskala luas juga pernah tercatat saat erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur pada 13 Februari 2014, ketika kolom erupsi setinggi 17 kilometer menghasilkan energi akustik yang terdengar hingga ke berbagai penjuru Jawa Tengah.
Selama periode dentuman Sabtu dini hari tersebut, hasil pemantauan Badan Geologi serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada aktivitas gempa tektonik signifikan di Jawa Barat, DKI Jakarta, maupun Banten yang dapat menjadi pemicu bunyi.
Prabowo Gelar Ratas Virtual, Bahas Gempa NTT-Erupsi Gunung Anak Krakatau

Peran Arah Angin dan Pembiasan ke Atas (Upward Refraction)
Melalui laporan bertajuk Analisis Komprehensif Fenomena Suara Dentuman di Wilayah Bandung Raya dan Sekitarnya, BMKG memaparkan faktor atmosfer yang membuat pola perambatan suara menjadi tidak biasa.
Gelombang suara erupsi tidak merambat lurus secara mendatar di dekat permukaan tanah. Arah angin yang berlawanan dengan jalur perambatan suara memicu terjadinya pembiasan ke atas (upward refraction). Kombinasi dinamika angin dan gradien suhu di atmosfer membelokkan gelombang suara naik menuju lapisan atmosfer yang lebih tinggi alih-alih menyebar merata di permukaan bumi dekat sumber letusan.
Terbentuknya Zona Bayangan Suara di Dekat Sumber Erupsi
Akibat pembiasan gelombang suara ke lapisan atas tersebut, terbentuk wilayah yang dinamakan zona bayangan suara (acoustic shadow zone). Zona ini mencakup kawasan yang posisinya relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau, termasuk sebagian besar wilayah Banten, Jakarta, dan Bogor.
Di dalam area acoustic shadow zone, gelombang suara terangkat melompati permukaan tanah sehingga warga di kawasan tersebut mendengar dentuman secara sangat lemah atau bahkan tidak mendengar suara sama sekali. Gelombang yang merambat di ketinggian tersebut kemudian terpantul atau turun kembali ke daratan pada jarak yang lebih jauh, sehingga suara letusan terdengar jelas saat mencapai wilayah Bandung Raya.
Gempa M3,0 Guncang Tanggamus Lampung, Dipicu Aktivitas Sesar Aktif

Bukti Rekaman Seismik Akustik dan Geomagnetik
Aktivitas erupsi vulkanik menghasilkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah yang memicu gelombang kejut kinetik. Gelombang ini berpotensi terlepas menjadi energi plasma berupa dentuman di langit (skyquake) ketika didukung kondisi atmosfer setempat.
Validasi sumber dentuman diperkuat oleh data magnet bumi di empat Stasiun Geofisika BMKG, yaitu Lampung Selatan (LPS), Serang (SRG), Sukabumi (SKB), dan Tretes (TRT). Keempat stasiun merekam gangguan geomagnetik berupa penguatan spektrum warna merah pada spektrogram antara pukul 23.30 WIB hingga 01.00 WIB, selaras dengan kemunculan sambaran petir vulkanik di sekitar kawah Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan integrasi pemodelan visual dan instrumen pemantauan tersebut, BMKG menyimpulkan bahwa rentetan suara yang didengar warga kemungkinan besar bersumber murni dari rambatan Gelombang Seismik Akustik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang dipengaruhi dinamika atmosfer.






