Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengingatkan bahwa guncangan harga energi global belum berakhir, kendati perekonomian dunia sejauh ini mampu bertahan lebih baik dari perkiraan dalam menghadapi eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Berbicara menjelang pertemuan menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, pada 25 Agustus 2026, Georgieva menilai dinamika global saat ini berada dalam posisi tarik-menarik. Tekanan negatif dari gangguan pasokan energi di kawasan Teluk berhadapan langsung dengan dorongan positif dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang mulai meluas ke luar AS. Kendati keseimbangan risiko dinilai lebih baik dibanding proyeksi April lalu, arah proyeksi global masih condong ke sisi negatif karena kondisi fiskal di sejumlah negara justru semakin rapuh.
Kekhawatiran pasar terhadap dampak penutupan Selat Hormuz sebelumnya berhasil diredam oleh kombinasi sejumlah langkah darurat. Pelepasan cadangan minyak dan gas, peningkatan pasokan dari luar kawasan Teluk, pelemahan permintaan, akselerasi kapasitas energi terbarukan, hingga pengoperasian kembali pembangkit listrik berbasis batu bara di berbagai negara berperan menahan gejolak pasar. Hasilnya, harga minyak mentah Brent yang sempat menembus US$118 per barel pada musim semi lalu melunak dan bertahan di kisaran US$80 hingga US$90 per barel sejak pertengahan Juni.
12 Bank di RI Tutup dalam 8 Bulan!

Namun, stabilitas harga tersebut dinilai rentan. Georgieva menegaskan bahwa pembuat kebijakan tidak boleh lengah karena potensi lonjakan harga minyak sewaktu-waktu dapat menyulut kembali inflasi global. Jika inflasi kembali naik, bank sentral di berbagai negara akan terpaksa mempertahankan kebijakan moneter ketat demi menjaga stabilitas harga, yang pada akhirnya meningkatkan beban biaya pinjaman serta menekan aktivitas ekonomi riil.
Kerentanan beban utang tersebut sudah tecermin di pasar keuangan negara maju. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh rekor tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Situasi tersebut memicu respons dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menggandakan volume pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang demi meredam lonjakan biaya pinjaman, di tengah desakan konsisten IMF agar Washington menekan defisit fiskalnya yang terus melebar.
Perkuat Kolaborasi, Bank bjb dan YKEP Perluas Akses Produk Perbankan

Selain menyoroti disiplin fiskal dan kebijakan moneter, Georgieva juga terus mendorong China untuk mereformasi struktur ekonominya agar beralih dari ketergantungan ekspor ke penguatan konsumsi domestik. Pada Juli lalu, IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,0% akibat kombinasi risiko perang Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, dan dinamika AI. Pembaruan menyeluruh terhadap proyeksi ekonomi dunia tersebut dijadwalkan rilis pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada pertengahan Oktober mendatang.






