Pantauan visual menunjukkan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga telah mengalami penurunan signifikan pada Selasa (15/9/2026) pagi. Kendati titik api dan asap di permukaan terlihat hampir padam secara kasatmata, evaluasi berbasis teknologi mengungkap bahwa potensi titik panas masih tersimpan di bawah gunungan sampah.
Hingga pukul 05.37 WIB, kepulan asap dan nyala api di area TPA yang mencakup wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dilaporkan sudah hampir hilang seluruhnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi kritis pada hari kedua, saat kobaran api sempat membesar melebihi perkiraan awal sebelum akhirnya berhasil dikendalikan. Dari total 8,4 hektare lahan yang terdampak kebakaran, area yang tersisa kini tercatat berkurang drastis menjadi sekitar 0,48 hektare.
Pembongkaran Material untuk Pendinginan Bara
Meski kobaran di permukaan luar telah mereda, pantauan dari udara menggunakan drone termal mendeteksi keberadaan bara aktif yang terperangkap di lapisan dalam tumpukan sampah. Keberadaan titik panas laten ini berisiko memicu kembali kobaran jika tidak ditangani secara menyeluruh.
Pertamina Minta Maaf soal Antrean Panjang di SPBU Makassar

Menindaklanjuti temuan tersebut, tim gabungan melanjutkan operasi pemadaman dengan membongkar titik-titik material sampah yang terindikasi masih menyimpan panas. Pembongkaran tumpukan sampah dilakukan guna memastikan titik bara terbuka, kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan dan proses pendinginan sampai kondisi benar-benar stabil dan aman dari ancaman kebakaran ulang.
Penanganan Terpadu 24 Jam
Upaya penanggulangan kebakaran di TPA Galuga terus berjalan secara intensif selama 24 jam penuh sejak hari pertama kejadian. Penanganan terpadu ini melibatkan kerja sama lintas pihak antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, unsur TNI, Polri, dan para relawan.
Api Masih Muncul, Kotim Kalteng Perpanjang Status Darurat Karhutla

Berbagai metode mitigasi dikerahkan selama proses pemadaman berlangsung. Langkah tersebut mencakup operasi pengeboman air (water bombing) oleh TNI AU, pengerahan armada alat berat ke titik tumpukan, pembuatan embung air darurat di area sekitar, serta pemanfaatan drone termal untuk terus memetakan sebaran suhu panas di bawah timbunan sampah.






