Tercatat sebanyak 24.846 keluarga menjadi korban terdampak bencana gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus lalu. Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga 19 Agustus 2026, gempa tersebut menimbulkan dampak kerusakan yang cukup masif di berbagai sektor. Menghadapi situasi darurat ini, Kementerian Sosial (Kemensos) bergerak cepat untuk mengamankan pasokan pangan dan kebutuhan dasar para penyintas. Sebagai langkah pemenuhan kebutuhan pokok, Kemensos mendirikan tiga dapur umum guna menjamin ketersediaan makanan bagi warga di pengungsian.
Bagi warga terdampak yang membutuhkan pasokan makanan siap saji, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mendatangi titik pelayanan terdekat. Pengoperasian dapur umum ini telah berjalan sejak 19 Agustus 2026 dan ditempatkan di tiga lokasi, yaitu Mano (Kecamatan Lamba Leda Selatan), Pota (Kecamatan Sambi Rampas), serta Dampek (Kecamatan Lamba Leda Utara). Secara kumulatif, ketiga dapur umum tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai sekitar 6.000 bungkus makanan siap saji per hari yang dialokasikan untuk dua kali waktu makan. Operasional di lapangan ini didukung langsung oleh personel Tagana, TKSK, pendamping PKH, dinas sosial, serta pemerintah daerah setempat.
Layanan Psikososial Kemensos untuk Anak Penyintas Gempa di Nagekeo

Selain makanan siap saji, para penyintas gempa juga dapat mengakses bantuan logistik non-pangan dan perlengkapan tidur. Penyaluran bantuan kedaruratan dari Kemensos dilakukan melalui Gudang Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur. Logistik yang didistribusikan meliputi lima ton beras, 1.000 paket sembako, 24 lembar selimut, 24 lembar kasur, serta berbagai jenis tenda darurat. Tenda yang disiapkan terdiri dari tiga unit tenda regu, dua tenda pleton, delapan tenda keluarga, dua tenda serba guna, 35 tenda gulung, empat tenda portabel keluarga, serta tiga unit dapur umum lapangan. Warga disarankan berkoordinasi dengan pihak terkait di lokasi pengungsian agar kebutuhan perlengkapan ini dapat didata dan disalurkan secara teratur.
Untuk memastikan bantuan tersalurkan secara merata, warga diharapkan aktif berpartisipasi dalam proses pendataan. Kemensos telah menerjunkan tim Tagana bersama tim Direktorat PSKB ke wilayah-wilayah terdampak. Tim ini bertugas melakukan asesmen langsung, pendataan, serta verifikasi dan validasi data korban di lapangan. Berdasarkan rincian data sementara, terdapat 19.803 jiwa yang mengungsi, 25 orang meninggal dunia, 16 warga luka berat, dan 52 orang mengalami luka ringan. Verifikasi terus dilakukan secara dinamis untuk meminimalisasi ketidakakuratan data penerima manfaat bantuan.
Kemensos Sediakan Dapur Umum dan Fasilitas Pengungsian di Sikka

Langkah keselamatan pascabencana juga harus tetap diprioritaskan oleh seluruh masyarakat. Gempa ini mengakibatkan 12.423 rumah di Manggarai Timur mengalami kerusakan, beserta infrastruktur publik yang mencakup 15 ruas jalan, enam jembatan, 309 gedung sekolah, 24 puskesmas, 42 rumah ibadah, sembilan saluran irigasi, dan 58 fasilitas pemerintahan. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjauhi bangunan yang retak atau rusak guna menghindari risiko runtuh, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG terkait potensi gempa susulan. Terkait penanganan ini, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan di Jakarta pada 20 Agustus 2026 bahwa pemenuhan kebutuhan pokok para penyintas menjadi prioritas utama pemerintah selama masa tanggap darurat.






