Pemerintah dan tim penanganan darurat mulai mengalihkan fasilitas dapur umum serta pos penanganan pengungsi mandiri akibat gempa bumi magnitudo 7,7 Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, mulai Sabtu (29/8/2026).
Langkah relokasi posko ini diambil setelah sebagian besar warga yang mengungsi di fasilitas terpusat GOR Samador, Maumere, telah dipulangkan ke wilayah tempat tinggal mereka masing-masing.
Gempa M 4,4 Guncang Bandung, BMKG Ingatkan Potensi Gempa Susulan

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa hingga Jumat (28/8/2026), pemulangan pengungsi dari pos terpusat tersebut telah mencapai 3.627 kepala keluarga (KK) atau 13.175 jiwa. Warga yang dipulangkan merupakan penyintas yang rumahnya dipastikan tidak mengalami kerusakan akibat guncangan gempa utama maupun gempa susulan.
Dengan kepulangan sebagian besar warga di daratan utama Maumere, konsentrasi layanan logistik dialihkan lebih dekat ke pemukiman warga di Pulau Palue. Pulau yang terletak sekitar 45 hingga 50 mil laut di utara Maumere tersebut memiliki delapan desa dengan total populasi lebih dari 10.000 jiwa.
209 Penerbangan Batal, Begini Nasib Penumpang di Soekarno Hatta

Selain pemindahan fasilitas dapur umum dan posko mandiri, berbagai upaya pemulihan pascagempa terus berlangsung di wilayah terdampak NTT. Pertamina mencatat operasional 56 SPBU di Pulau Flores telah pulih 100 persen guna menjamin pasokan energi, di samping penyaluran bantuan kemanusiaan sebesar Rp1,7 miliar. Sementara itu, BMKG turut melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah di Flores dalam menyusun peta mikrozonasi serta perencanaan rekonstruksi bangunan tahan gempa.






