JAKARTA — Perekonomian global diperkirakan sedang memasuki siklus belanja modal baru yang didorong oleh dua sektor utama, yaitu pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan energi. Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, mengungkapkan bahwa tren ini membuka berbagai peluang investasi baru di pasar keuangan.
Lonjakan investasi pada sektor AI terlihat signifikan. Pertumbuhan pendapatan di Amerika Serikat (AS) melonjak 26% pada kuartal lalu, dipimpin oleh perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan AI. Kenaikan ini mengakibatkan penurunan posisi price-to-earnings ratio (PER) sebesar 13% menjadi 22x. Dominasi sektor teknologi ini juga tercermin dari 10 saham AI teratas yang menyumbang sekitar 78% dari total kenaikan indeks. Adapun tren belanja modal terkait AI diproyeksikan akan terus berlanjut dengan nilai mencapai sekitar US$ 1 triliun per tahun selama beberapa tahun ke depan.
Dalam menghadapi dinamika tersebut, DBS lebih memilih penerima manfaat tipe penyedia sarana penunjang (pick-and-shovel) yang diposisikan secara strategis untuk menangkap peningkatan intensitas belanja modal. Fokus utama mencakup ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia layanan dan peralatan minyak.
KAI Targetkan Perawatan Tujuh Trainset KRL iE305 Rampung hingga 9 Oktober

Di sektor energi, DBS melihat peluang investasi yang mencakup hidrokarbon tradisional dan terbarukan, serta infrastruktur energi pada penyimpanan, jaringan grid, hingga tenaga nuklir. Namun, lanskap investasi ini turut dihadapkan pada tantangan geopolitik. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah meningkatkan risiko harga energi bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Di sisi lain, investasi besar-besaran pada sektor AI berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek akibat tingginya permintaan untuk pembangunan infrastruktur masif. Selain itu, keluarnya Tiongkok secara bertahap dari deflasi juga menjadi faktor pendorong inflasi. Pemulihan stabilitas harga di Tiongkok ini didukung oleh kebijakan anti-involusi serta kenaikan biaya input komoditas akibat krisis Iran.
MIND ID Perkuat Kontribusi Penerimaan Negara lewat Pengelolaan Mineral

Untuk mengantisipasi risiko inflasi yang tinggi dan pasokan, DBS menghindari obligasi berdurasi ultra-panjang. Investasi difokuskan pada kredit berperingkat layak investasi (investment grade/IG) dengan rata-rata durasi portofolio 5 hingga 7 tahun. Sebagai instrumen diversifikasi alternatif, aset seperti emas, komoditas pilihan, serta saham domestik Tiongkok dinilai menawarkan manfaat yang efektif.
Seiring dengan langkah menavigasi dinamika pasar global, Bank DBS Indonesia juga mencatatkan sejumlah pencapaian pada 2026. Penghargaan yang diraih antara lain Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia, Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, serta Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.






