Kondisi keuangan Amerika Serikat mengalami tekanan besar setelah defisit anggaran bulanan melonjak tajam. Laporan terbaru menunjukkan bahwa defisit anggaran pemerintah federal pada Juli 2026 mencapai US$432,3 miliar atau sekitar Rp 7.700 triliun. Angka ini menandakan kenaikan sekitar 48% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain itu, lonjakan ini tercatat sebagai defisit bulanan terbesar yang dialami oleh negara tersebut sejak Maret 2021.
Pembengkakan anggaran pada bulan tersebut dipicu oleh beberapa faktor teknis dan peningkatan belanja jaminan sosial. Salah satu penyebab utamanya adalah pergeseran kalender pembayaran. Karena hari pertama pada bulan tersebut jatuh pada hari nonkerja, pemerintah mempercepat pencairan berbagai tunjangan, termasuk pembayaran Medicare dan Supplemental Security Income, yang memberikan dampak pengeluaran sebesar US$99 miliar. Pengeluaran untuk program Medicare sendiri melonjak menjadi US$174 miliar pada Juli, naik dari US$103 miliar pada bulan Juni. Angka ini menempatkan Medicare sebagai pos pengeluaran terbesar pada Juli, melebihi belanja Social Security sebesar US$141 miliar serta pembayaran bunga bersih utang nasional yang mencapai US$104 miliar. Beban anggaran juga bertambah US$33 miliar karena pemerintah harus melakukan pengembalian dana tarif setelah Mahkamah Agung menyatakan sejumlah tarif tertentu ilegal.
MSCI Keluarkan 10 Saham Indonesia, IHSG Dibuka Dua Arah

Secara kumulatif, tren pengeluaran sepanjang tahun anggaran ini terus menunjukkan peningkatan. Selama sepuluh bulan pertama tahun fiskal berjalan, akumulasi defisit anggaran AS telah mendekati US$1,8 triliun atau sekitar Rp 32.166 triliun, melampaui catatan pada periode yang sama di tahun 2025. Dari total belanja tersebut, pengeluaran kumulatif untuk program kesehatan Medicare telah menyentuh angka US$955 miliar. Tingginya defisit ini sejalan dengan total utang nasional Amerika Serikat yang kini menembus US$39,9 triliun atau setara dengan Rp 713 kuadriliun, di mana sekitar US$32,1 triliun dari jumlah tersebut merupakan utang yang dipegang oleh publik.
Besarnya tumpukan utang ini berimplikasi langsung pada tingginya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk membayar bunga. Sepanjang tahun fiskal ini, pemerintah AS telah membayar US$1,17 triliun untuk pembiayaan utang nasionalnya, naik dibandingkan biaya pembayaran utang pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$1,01 triliun. Pembayaran bunga bersih, yaitu total bunga yang dibayarkan oleh Departemen Keuangan dikurangi bunga yang diterimanya, mencapai US$931 miliar. Secara keseluruhan, pembiayaan utang untuk keseluruhan tahun fiskal kini menjadi pos pengeluaran terbesar ketiga bagi anggaran AS, berada tepat di belakang program Social Security dan Medicare.
IHSG Parkir di Zona Hijau, Investor Asing Banyak Lepas Saham-Saham Ini

Tingginya biaya utang ini sebelumnya terus menjadi sorotan politik di dalam negeri. Presiden AS Donald Trump selama bertahun-tahun mendesak bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan suku bunga acuan guna memangkas biaya utang pemerintah. Namun, Trump dilaporkan telah berhenti melayangkan kritik terhadap bank sentral setelah Kevin Warsh resmi mengambil alih posisi Ketua The Fed pada bulan Mei. Di sisi lain, upaya pengendalian beban utang ini masih menghadapi tantangan berat karena tingkat inflasi di Amerika Serikat terus bertahan di atas target bank sentral sebesar 2% selama lebih dari lima tahun terakhir.






