Data Stasiun Pemantauan Tanjung Priok yang dihimpun Meteostat menunjukkan suhu di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, menyentuh angka 32,1 derajat Celsius pada 25 Juli 2026. Di tengah bayang-bayang cuaca panas pesisir tersebut, anak-anak setempat yang tergabung dalam Kelas Jurnalis Cilik tetap turun ke lapangan untuk merekam realitas sosial dan perubahan iklim di lingkungan permukiman mereka.
Program pelatihan yang diprakarsai oleh Ilyas, seorang jurnalis asal Cilincing, telah berjalan sejak 2018. Selama lima bulan, para peserta memadukan teori jurnalistik dasar dengan praktik lapangan di kampung halaman mereka, sebelum akhirnya menggelar pameran foto yang dikelola secara mandiri. Namun, proses belajar tidak selalu berjalan mulus. Kegiatan kelas kerap berlangsung di area bawah kolong jembatan, menuntut para pengajar beradu suara dengan deru mesin truk yang melintas di atas kepala. Sengatan cuaca ekstrem bahkan membuat beberapa anak memilih berhenti dari program ini karena tidak kuat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Dampak cuaca panas turut membatasi ruang gerak dan kesehatan anak-anak. Hafiz (11), salah satu murid sekolah dasar peserta program tersebut, terpaksa membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari karena pernah beberapa kali terserang pitam panas (heatstroke). Melalui medium jurnalistik dan fotografi, Hafiz bertekad mengangkat persoalan perubahan iklim, suhu ekstrem, hingga pengelolaan sampah yang buruk di kawasannya. Hal serupa dirasakan Hazia (12), peserta lain yang mengamati pepohonan di sekitar tempat tinggalnya kini mengering akibat terik berlebih. Salah satu orang tua murid, Teguh, menuturkan bahwa pendingin ruangan (AC) di rumahnya bahkan sudah tidak mampu meredam hawa panas yang menyerang kawasan permukiman.
Lulusan Sarjana Sulit Dapat Kerja, Apa yang Dicari Industri?

Tekanan iklim di kawasan pesisir ini beririsan dengan keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH) serta tingginya tingkat kerentanan ekonomi masyarakat. Menurut catatan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta tahun 2024, ketersediaan RTH di Jakarta Utara hanya sebanyak 353 lokasi dari keseluruhan 2.545 RTH di lima kota administrasi. Angka tersebut merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan Jakarta Selatan (866 RTH), Jakarta Barat (493 RTH), Jakarta Timur (461 RTH), dan Jakarta Pusat (372 RTH). Di samping itu, Jakarta Utara masih menjadi kota dengan persentase penduduk miskin paling besar di Provinsi DKI Jakarta hingga tahun 2024.
Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terhadap data Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok periode 1981–2025 mengonfirmasi peningkatan suhu harian dalam jangka panjang. Peningkatan suhu minimum tercatat mencapai sekitar 0,026 derajat Celsius setiap tahunnya, sementara suhu maksimum bertambah sekitar 0,014 derajat Celsius per tahun. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa dominasi kenaikan suhu minimum mengindikasikan pemanasan pada malam hari (nighttime warming). Kondisi ini berkaitan dengan fenomena Urban Heat Island (UHI) dan perubahan iklim global di wilayah pesisir Jakarta Utara.
Prabowo Resmikan Ekosistem Motor Listrik Nasional (MOLINAS) Hari Ini di Cikarang

Meski dihadapkan pada cuaca ekstrem dan keterbatasan fasilitas, pelatihan fotografi jurnalistik ini memberikan dampak nyata bagi pendidikan peserta. Kharisa (15), yang merupakan peserta angkatan kedua pada 2021 saat masih duduk di bangku kelas 2 SD, menjadi salah satu contoh alumni program tersebut. Ilyas mengungkapkan bahwa beberapa mantan peserta kini memanfaatkan keahlian fotografi mereka sebagai fotografer lepas di kawasan Kota Tua untuk membantu membiayai kebutuhan sekolah.






