Malam-malam di pengungsian Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berlalu dalam gulita dan keterbatasan. Enam hari pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT, ribuan penyintas terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda darurat tanpa penerangan memadai, sembari menanti bantuan resmi yang tak kunjung tiba secara merata.
Bencana ini meluluhlantakkan ribuan tempat tinggal warga di Cibal Barat. Di Desa Latung, Gonsadi Tarsan Padu (30) mendapati kediamannya rata dengan tanah. Seluruh perabotan rumah tangga, televisi, hingga perangkat parabola miliknya lenyap tertimbun puing reruntuhan. Di tengah kondisi cuaca tenda yang serba terbuka, Gonsadi mulai terserang flu. Layanan medis yang ia terima dari petugas kesehatan setempat pun sangat terbatas, yakni hanya tiga butir obat berupa paracetamol dan vitamin. Meski pendataan sempat dilakukan, petugas hanya mencatat kebutuhan dasar pangan dan air, tanpa memberikan kejelasan mengenai bantuan material bangunan untuk perbaikan tempat tinggal.
Minimnya kehadiran pemerintah daerah maupun pusat dirasakan nyata oleh para penyintas di berbagai desa. Leonardus Ungkur, warga Golo Woi, mengungkapkan bahwa kebutuhan pangan harian keluarganya selama masa krisis ini sepenuhnya disokong oleh organisasi non-pemerintah (LSM). Dari lembaga non-pemerintah tersebut, ia menerima mi instan, telur, dan enam karung beras berukuran 1,5 kilogram per keluarga. Hal serupa dialami Aloysius Ban, yang harus berdesakan bersama sekitar tujuh kepala keluarga di bawah naungan satu tenda darurat. Aloisius menyebut hanya mendapatkan bantuan sekilogram beras, empat butir telur, dan dua bungkus mi instan dari pihak luar, sementara pasokan dari aparat negara sama sekali belum ia terima.
Kemensos Perkuat Penanganan Dampak Gempa Bumi di Nusa Tenggara Timur

Ketergantungan pada pihak non-pemerintah juga diakui oleh Piter Jawak. Dapur darurat keluarganya baru bisa terus mengepul berkat bantuan dari pihak swasta, kiriman sanak famili dari Ruteng, serta pasokan air bersih yang disalurkan lembaga swadaya. Tinus Rakin menduga lambannya penyaluran bantuan pemerintah dipicu oleh birokrasi di tingkat bawah yang terkendala padamnya jaringan telekomunikasi dan aliran listrik.
Camat Cibal Barat Yohanes Regon mengakui adanya kegagapan pemerintah dalam menangani dampak bencana berskala besar ini. Secara keseluruhan, gempa berdampak pada 10 desa di wilayah Cibal Barat dengan total korban mencapai 4.331 kepala keluarga atau 17.175 jiwa. Berdasarkan data awal per 19 Agustus, tercatat satu korban meninggal dunia, 578 rumah rusak berat, 959 rumah rusak sedang, dan 527 rumah rusak ringan.
Kuasa Hukum Yaqut, Kuota Haji Hak Saudi, Bukan Keputusan RI

Yohanes menjelaskan bahwa kendala logistik diperparah oleh pemadaman listrik selama hampir dua hari pada 15–16 Agustus lalu. Kondisi tersebut menyebabkan daya baterai ponsel perangkat desa habis total, sehingga menghambat koordinasi pendataan kerusakan bangunan. Selain itu, pengambilan cadangan beras harus melewati antrean dan administrasi di gudang Bulog, sementara Pemerintah Kabupaten Manggarai harus membagi konsentrasi penanganan ke 12 kecamatan terdampak sekaligus.
Upaya distribusi bantuan perlahan mulai berjalan dari tingkat pusat. Pada 20 Agustus, BNPB menerbangkan helikopter dari Labuan Bajo untuk mengantarkan 50 kotak bantuan khusus bagi balita, ibu hamil, dan ibu nifas yang disalurkan melalui Puskesmas. Namun, dengan belasan ribu jiwa yang masih mengungsi di tenda-tenda darurat, kebutuhan mendesak seperti terpal, selimut tebal, perlengkapan bayi, serta sembako masih sangat dinantikan.






