Apa tujuan utama kegiatan edukasi finansial di SMA Negeri 1 Rote Selatan?
Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos atau akrab disapa Sandi, membagikan wawasan mengenai pengelolaan uang saku kepada para pelajar SMA Negeri 1 Rote Selatan di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) Provinsi NTT 2026 pada Rabu (19/8). Melalui sesi tersebut, para siswa diarahkan agar terbiasa mengelola dana pribadi sejak dini demi mempersiapkan kebutuhan masa depan yang lebih besar.
Bagaimana metode alokasi uang saku yang diperkenalkan kepada para pelajar?
Sandi yang berprofesi sebagai jurnalis Stabilitas.id memberikan simulasi alokasi anggaran yang relevan bagi kehidupan sehari-hari siswa. Dari total dana misalnya Rp100.000, ia menyarankan proporsi 50 persen dialokasikan untuk kebutuhan wajib, 30 persen disiapkan untuk keperluan berjaga-jaga, serta 20 persen disisihkan secara konsisten untuk tabungan. Rumusan ini memudahkan siswa dalam menentukan skala prioritas keuangan mereka.
OJK Ungkap Warga Jawa Barat Paling Banyak Jadi Korban Penipuan Online

Pengalaman apa yang mendasari pentingnya kebiasaan menabung sejak bangku sekolah?
Sandi yang berasal dari Bajawa, NTT, membagikan kisah nyatanya saat merantau ke Jakarta. Sebelum akhirnya mampu mengenyam bangku kuliah, ia sempat bekerja sebagai satpam. Kemampuan menyisihkan uang dari pekerjaan tersebut menjadi modal utama hingga ia berhasil membiayai studinya. Fondasi disiplin keuangan yang dibentuk sejak masa SMA dinilai sangat penting ketika seseorang harus menghadapi kebutuhan hidup yang lebih kompleks di masa dewasa.
Bagaimana respons siswa serta dukungan pihak sekolah terhadap edukasi ini?
Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Dibuka, Simak Jadwal SNBP, Syarat, dan Besaran Bantuannya

Salah satu siswa kelas 10B SMAN 1 Rote Selatan, Sidensi Miangada, yang biasanya membawa uang saku Rp5.000 ke sekolah, mengaku terdorong untuk lebih mementingkan kebutuhan dibanding keinginan dan menerapkan prinsip menyisihkan 20 persen dana untuk tabungan. Di sisi lain, Plt. Kepala SMAN 1 Rote Selatan, Marni Alinta Sandale, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif literasi keuangan serta peluncuran produk Simpanan Pelajar (SimPel) dari Bank NTT. Pihak sekolah juga terus menjaga fokus belajar siswa, termasuk dengan menerapkan aturan penyimpanan ponsel di loker selama jam pelajaran berlangsung kecuali saat dibutuhkan untuk materi belajar.
Kendala apa yang dihadapi OJK dalam memperluas literasi di wilayah 3T NTT?
Plt. Kepala OJK NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan edukasi dan literasi tidak selalu bisa digelar sewaktu-waktu di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Akses transportasi yang terbatas serta dinamika cuaca yang kerap memengaruhi jalur laut maupun penerbangan menuju Pulau Rote menjadi tantangan utama dalam menjaga kesinambungan program di daerah perbatasan.






