Komisi XI DPR RI telah menyetujui penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri sejak Juli lalu. Pergantian pucuk kepemimpinan di bank sentral ini langsung dihadapkan pada tantangan berat dalam menjaga stabilitas dan penguatan nilai tukar rupiah.
Ekonom senior Didik J Rachbini memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda tidak akan menguat secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Menurutnya, langkah memperkuat rupiah membutuhkan pembenahan struktural yang tidak sederhana.
Didik menjelaskan, penerapan rezim suku bunga tinggi memang berpeluang menarik aliran modal asing karena aset di Indonesia menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor. Kendati demikian, potensi masuknya modal tersebut dibayangi oleh tingginya biaya transaksi di dalam negeri akibat persoalan kepastian hukum, dinamika sosial politik, serta regulasi yang rumit.
12 Bank di RI Tutup dalam 8 Bulan!

Keterbatasan Cadangan Devisa dan Orientasi Pasar
Tantangan penguatan mata uang juga dipengaruhi oleh posisi cadangan devisa nasional. Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar US$ 145,3 miliar. Posisi tersebut terpaut jauh jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura yang mengantongi cadangan sekitar US$ 426,2 miliar atau Thailand yang memiliki sekitar US$ 279,2 miliar. Sementara itu, Malaysia mencatatkan cadangan devisa sebesar US$ 132,6 miliar.
Di sisi lain, perilaku dunia usaha nasional mengalami pergeseran orientasi. Setelah sempat menerapkan strategi berorientasi ekspor (outward looking) pada era 1980-an dan 1990-an, para pelaku usaha kini cenderung lebih berfokus ke pasar domestik (inward looking). Pasar dalam negeri yang ditopang oleh populasi 293 juta jiwa serta kelompok kelas menengah yang besar membuat pengusaha dapat bertumbuh tanpa harus melakukan ekspansi ke pasar luar negeri.
Perkuat Kolaborasi, Bank bjb dan YKEP Perluas Akses Produk Perbankan

Struktur perolehan devisa ekspor Indonesia saat ini masih banyak bertumpu pada komoditas mentah dan setengah jadi, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel. Meskipun sektor-sektor tersebut menyumbang devisa dalam jumlah besar, kinerjanya sangat bergantung pada volatilitas kenaikan harga komoditas di pasar global.






