Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang cukup menggembirakan sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026. Angka ini mencerminkan kondisi perekonomian domestik yang masih tangguh di tengah berbagai dinamika global. Kendati demikian, laju pertumbuhan ini tidak serta-merta menjadi lampu hijau bagi masyarakat untuk langsung agresif menempatkan dana mereka pada instrumen investasi berisiko tinggi. Para perencana keuangan mengingatkan pentingnya sikap berhati-hati sebelum mengambil keputusan finansial yang besar.
Perencana Keuangan Andi Nugroho menyarankan agar masyarakat tidak terburu-buru meningkatkan porsi investasi pada aset-aset yang memiliki profil risiko tinggi hanya karena tergiur oleh data pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurutnya, langkah terbaik saat ini adalah melakukan pendekatan 'wait and see' atau menunggu dan melihat perkembangan situasi terlebih dahulu guna mengamati stabilitas pasar dalam beberapa waktu ke depan. Bagi investor yang ingin tetap memutar dananya, Andi mengidentifikasi Surat Berharga Negara (SBN) ritel, seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Sukuk Ritel, sebagai pilihan instrumen yang paling menarik hingga akhir tahun ini.








