Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda kembali meningkat setelah mengalami erupsi sejak Sabtu (5/9/2026) malam dan berlanjut hingga Minggu (6/9/2026). Letusan kali ini memicu fenomena lava fountain atau pancuran lava, yang disertai dentuman berulang, lontaran material batu di area sekitar gunung, serta pelepasan abu vulkanik.
Dampak sebaran debu vulkanik dari erupsi tersebut terpantau menjangkau wilayah Lampung, Banten, Jakarta, hingga Bandung. Menanggapi eskalasi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius bahaya 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Tingkat aktivitas yang sebelumnya berada pada Level II (Waspada) sejak Juli 2026 kini telah dinaikkan statusnya menjadi Level III (Siaga).
Gangguan abu vulkanik di ruang udara juga berdampak langsung pada sektor transportasi. Operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten dan Bandara Raden Inten di Bandar Lampung ditutup sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan guna menjaga keselamatan penerbangan.
Tak Semua ASN Sarjana, Tapi Bukan Alasan Mereka Berkinerja Buruk

Karakteristik dan Proses Terjadinya Lava Fountain
Secara vulkanologis, lava fountain terjadi ketika magma dari dalam kantung gunung api terdorong kuat ke permukaan tanpa menciptakan ledakan eksplosif yang menghancurkan struktur batuan secara masif. Dorongan gas tersebut menyemburkan lava cair berpijar ke udara, yang kemudian jatuh dan mengalir menyerupai bentuk air terjun atau pancuran. Suhu material lava yang dimuntahkan sangat panas, berada pada rentang antara 800 hingga 1.200 derajat Celsius.
Fenomena semburan ini sangat identik dengan karakter letusan gunung api di Hawaii, Amerika Serikat, serta Gunung Etna di Italia. Berdasarkan studi Stephen A. Nelson dari Tulane University, New Orleans, pancuran lava terbentuk dari perpaduan proses kimia dan tekanan fisika hidrostatik seiring bergeraknya magma cair ke atas. Pelepasan gas yang terperangkap dalam magma bertipe basaltik mampu menyemburkan semburan api dan lontaran lava pijar hingga mencapai ketinggian 1 kilometer di atas kawah.
Gubernur NTT Sebut Pelaku Pemerkosa Anak Korban Gempa NTT Sudah Diproses

Durasi kemunculan fenomena ini dapat berlangsung cukup lama, sebagaimana dibuktikan dalam riset Alessandro Bonnacorso dan Sonia Calvari yang meneliti perilaku Gunung Etna. Bagi Gunung Anak Krakatau sendiri, erupsi dengan karakter semburan lava serupa pernah tercatat terjadi pada tahun 2018, saat fase aktivitas tinggi berlangsung sebelum memicu tsunami di pesisir Banten.






