Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tengah merancang strategi besar untuk memposisikan wilayahnya sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Fokus utama dari ambisi ini bertumpu pada Kecamatan Batulanteh, sebuah kawasan dataran tinggi yang disiapkan menjadi sentra kopi unggulan sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat setempat. Transformasi citra wilayah ini secara resmi didorong melalui perhelatan Festival Ngemar Kawa atau Festival Petik Kopi Batulanteh 2026 yang dipusatkan di Desa Tepal. Langkah ini diharapkan mampu menggeser pandangan publik yang selama ini kerap mengenali Batulanteh dari kondisi medan jalannya yang menantang, menjadi kawasan yang identik dengan kualitas komoditasnya.
Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, memiliki visi agar identitas daerahnya melekat erat dengan komoditas perkebunan tersebut. Melalui keterangan tertulis yang diterima di Mataram pada Senin, ia menegaskan bahwa festival yang digelar bukan sekadar perayaan rutin pascapanen. Acara yang telah resmi masuk dalam Kalender Event Kabupaten Sumbawa ini merupakan momentum krusial untuk membangun masa depan kawasan pegunungan tersebut. Jarot mengharapkan sebuah perubahan pola pikir di mana ingatan masyarakat luas tentang Sumbawa akan langsung merujuk pada kopi, dan pembicaraan mengenai kopi akan bermuara pada nama Batulanteh.
Keyakinan pemerintah daerah terhadap potensi Batulanteh didasarkan pada pengakuan resmi atas kualitas hasil buminya. Saat ini, tiga jenis kopi dari wilayah tersebut, yakni Kopi Tepal, Kopi Punik, dan Kopi Batudulang, telah berhasil memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG). Pengakuan ini menjadi bukti autentik atas kekhasan cita rasa yang dihasilkan dari alam Batulanteh yang didukung oleh panorama indah, kelestarian hutan, serta keramahan penduduk lokal. Selain kopi, komoditas bernilai ekonomis tinggi lainnya seperti alpukat, durian, dan kemiri juga terus dikembangkan. Seluruh upaya pengembangan sektor pertanian ini diintegrasikan di bawah payung program Sumbawa Hijau Lestari.
MIND ID Perkuat Kontribusi Penerimaan Negara lewat Pengelolaan Mineral

Untuk merealisasikan transformasi Batulanteh sebagai kawasan agrowisata pegunungan unggulan di Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa menyadari perlunya intervensi yang menyeluruh. Syarafuddin Jarot memaparkan bahwa pengembangan komoditas unggulan daerah akan ditopang oleh berbagai penguatan di lapangan. Hal ini mencakup pembangunan infrastruktur fisik, perbaikan kualitas produk, hingga penyempurnaan kemasan. Lebih jauh lagi, pemerintah juga fokus pada peningkatan kapasitas para petani serta mendorong pemanfaatan teknologi dan pemasaran digital agar produk lokal mampu bersaing secara kompetitif di pasar yang lebih luas.
Dukungan terhadap langkah strategis Kabupaten Sumbawa turut disuarakan oleh jajaran Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB, Wirawan, memberikan apresiasi atas upaya konkret dalam membangun ekosistem kopi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Menurutnya, Festival Ngemar Kawa merupakan bentuk nyata sinergi lintas pihak yang mencakup penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan keahlian petani, hingga promosi pariwisata. Potensi perluasan pasar ini sudah mulai terlihat dengan dipasarkannya Kopi Tepal di salah satu kafe yang berlokasi di Kota Mataram. Wirawan meyakini bahwa peluang komoditas ini untuk menjangkau konsumen yang lebih luas sangat terbuka lebar, asalkan didukung oleh kelembagaan yang kuat, ketangguhan petani, kolaborasi antarsektor, serta optimalisasi teknologi informasi.
Purbaya Pamer Momen Kasih Makan Ikan di Kolam Usai Kena Reshuffle

Dari perspektif wilayah di tingkat akar rumput, perbaikan aksesibilitas mulai memberikan dampak positif bagi denyut kehidupan masyarakat. Camat Batulanteh, Adiman, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah dalam membangun infrastruktur yang semakin membuka akses menuju wilayah pegunungan tersebut. Ia menilai perhelatan Festival Ngemar Kawa membawa makna ganda bagi penduduk setempat. Selain sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen kopi yang diperoleh masyarakat, festival ini juga menjadi instrumen penting untuk melestarikan adat istiadat leluhur. Pada saat yang bersamaan, kegiatan ini berperan aktif dalam menggerakkan roda perekonomian, mengembangkan sektor pariwisata yang berkelanjutan, serta mendukung penuh tercapainya tujuan program Sumbawa Hijau Lestari.






