Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka mencatat sebanyak 3.645 warga dari 972 kepala keluarga (KK) masih bertahan di lokasi pengungsian pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dari keseluruhan pengungsi di daerah tersebut, konsentrasi warga terdampak paling besar berada di Palue.
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Sikka, sebanyak 3.340 jiwa dari 892 KK mengungsi di wilayah Palue. Sementara itu, kelompok pengungsi lainnya tersebar di dua titik wilayah, yakni Kecamatan Nita dan Kecamatan Kangae.
Bareskrim Bongkar 55 Kasus Judol Sepanjang 2026, 123 Tersangka Ditangkap

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka, Petrus Poling Wairmahing, memaparkan rincian tersebut dalam agenda rapat konsolidasi percepatan penanganan darurat bencana gempa bumi Provinsi NTT, Kamis (3/9/2026). Rapat koordinasi tersebut dilangsungkan secara daring melalui Zoom dari Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka sekitar pukul 13.00 Wita, didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Yosef Rikardus.
Pertemuan penanganan darurat ini melibatkan BNPB Pusat, perwakilan pemerintah pusat, Direktur Posko Pendamping Nasional, PIC Posko Sub Satgas Bandara Frans Seda Maumere, serta BPBD dari kabupaten terdampak lain di Pulau Flores seperti Ende dan Nagekeo. Pada fase perpanjangan status tanggap darurat, alokasi bantuan logistik dan peralatan kerja difokuskan ke Palue menyusul tingginya tingkat kerusakan permukiman di kawasan tersebut.
Viral Cekcok Petugas dan Penumpang KRL di Stasiun Angke, KCI Urai Duduk Perkara

Mengenai rekapitulasi realisasi penyaluran bantuan secara utuh, BPBD Sikka masih merapikan data sembari menanti dokumen berita acara serah terima dari aparat kecamatan masing-masing. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten Sikka terus mengimbau warga terdampak untuk mulai meninggalkan tenda pengungsian dan berangsur pulang ke rumah keluarga seiring situasi yang kian membaik.






