Pasar minyak mentah global kembali mengalami penguatan pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian yang menyelimuti rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Pelaku pasar tampak bersikap hati-hati di tengah negosiasi yang masih berjalan dan ketegangan geopolitik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.45 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$84,32 per barel. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,92 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, yang berada di level US$83,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga mengalami kenaikan sebesar 0,64 persen menjadi US$78,68 per barel, dari harga US$78,18 per barel pada sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan pada awal pekan ini menjadi angin segar setelah Brent sempat merosot hingga 7,29 persen dari US$90,12 per barel pada 31 Juli menjadi US$83,55 pada 7 Agustus. Bahkan, pada awal Agustus, harga Brent sempat jatuh ke bawah level US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
Penyebab utama dari fluktuasi harga ini berpusat pada perkembangan situasi di Selat Hormuz. Iran mengumumkan pada hari Minggu bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai kesepakatan pelayaran di selat tersebut telah memasuki tahap akhir. Kendati demikian, Teheran menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi sejumlah persyaratan khusus sebelum jalur laut tersebut dapat dibuka kembali secara normal.
Destry Damayanti Diajukan Sebagai Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia

Ketidakpastian semakin diperumit oleh draf regulasi baru yang tengah dikaji oleh pemerintah Iran. Aturan tersebut berpotensi melarang kapal-kapal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara lain yang dianggap bermusuhan untuk melintasi Selat Hormuz. Selain itu, Iran mengusulkan pungutan transit sebesar 5 hingga 7 persen dari nilai kargo bagi kapal yang melintas. Usulan ini berbeda dengan Oman yang membahas pungutan sekitar 3 persen, sementara Amerika Serikat menolak keras adanya pungutan apa pun. Bagi kapal yang melanggar aturan transit baru ini, denda yang diusulkan bisa mencapai hingga 20 persen dari nilai kargo mereka.
Di sisi lain, penerapan aturan baru ini menghadapi kendala operasional yang signifikan. Sejumlah sumber dari kalangan industri menyebutkan bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat serta persyaratan asuransi yang ketat membuat mekanisme pembayaran dan pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi sangat rumit untuk diterapkan.
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Mesin Cuci dan TV hingga Jutaan Rupiah

Situasi keamanan di sekitar jalur pasokan energi ini juga masih sangat rentan. Pada hari Minggu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco. Serangan tersebut terjadi hanya selang dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan di tengah ketegangan regional yang meningkat. Selain itu, perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, ADNOC, melaporkan bahwa 15 kapal mereka telah menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz sejak konflik ini pertama kali pecah.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, para analis menilai pasar masih akan terus bergejolak. Tim Waterer, Chief Market Analyst di KCM Trade, menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini masih menunggu bukti konkret sebelum bersedia menurunkan premi risiko. Bukti nyata yang dinanti tersebut dapat berupa pergerakan kapal tanker yang terverifikasi secara langsung atau adanya kesepakatan formal yang mengikat di antara pihak-pihak yang bertikai. Selama kepastian tersebut belum tercapai, pergerakan harga minyak mentah diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap dinamika yang terjadi di Selat Hormuz.






