Tekanan jual dari investor global membayangi pasar modal Indonesia pada perdagangan hari Selasa, 11 Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk ke zona merah setelah mencatat pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan sesi I. Kondisi ini sejalan dengan keputusan para pemodal luar negeri yang melakukan penarikan dana secara masif dari bursa domestik.
Berdasarkan data perdagangan sesi I, investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp774,89 miliar di seluruh pasar. Nilai transaksi pemodal asing pada paruh pertama hari ini mencapai Rp4,13 triliun, yang terdiri atas transaksi beli sebesar Rp1,68 triliun dan transaksi jual mencapai Rp2,45 triliun. Aksi pelepasan aset ini menekan pergerakan indeks secara keseluruhan sepanjang pagi hingga siang hari.
Pada akhir sesi I, IHSG terparkir di level 6.309,87, mengalami penurunan sebesar 55,50 poin atau melemah 0,87 persen. Indeks sebenarnya sempat dibuka pada level 6.383,81 pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual yang kuat memaksa indeks bergerak di rentang 6.291,19 hingga level tertinggi harian di 6.388,58 sebelum akhirnya ditutup melemah. Secara keseluruhan, sebanyak 488 saham terpantau mengalami penurunan harga, sementara hanya 169 saham yang berhasil menguat, dan 306 saham lainnya bergerak stagnan. Total transaksi perdagangan pada sesi I melibatkan 20,04 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp7,83 triliun yang terbagi dalam 1,21 juta kali transaksi.
PT Freeport Indonesia Ajukan Perpanjangan IUPK Tambang Grasberg Lebih Awal

Ketidakpastian geopolitik global disinyalir menjadi salah satu faktor yang memicu kehati-hatian pelaku pasar. Sentimen internasional memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan tuntutan agar Iran membayar kompensasi bagi para korban perang sebagai syarat mutlak untuk mencapai kesepakatan damai. Akibat ketegangan tersebut, harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 5 persen. Minyak jenis WTI ditutup pada level US$82,13 per barel, sedangkan minyak mentah jenis Brent bertengger di posisi US$87,72 per barel. Kenaikan harga energi ini memberikan dampak berantai pada pasar saham global dan regional, termasuk Indonesia.
Dampak dari tekanan jual ini dirasakan oleh seluruh sektor industri di bursa yang kompak berakhir di zona merah. Sektor utilitas memimpin penurunan dengan koreksi sebesar 1,38 persen, disusul oleh sektor finansial yang melemah sebesar 1,14 persen. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh investor asing.
MIND ID Resmi Jadi Pemegang Saham Terbesar Vale Indonesia Usai Rampungkan Divestasi

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi saham yang paling banyak dilepas dengan nilai net sell asing mencapai Rp131,35 miliar. Di sektor perbankan, dua bank raksasa juga mengalami tekanan serupa. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat net sell sebesar Rp87,19 miliar, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan nilai jual bersih Rp81,23 miliar. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga dilepas asing senilai Rp72,75 miliar. Selain itu, saham-saham blue chip lainnya seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencatat net sell Rp32,53 miliar, PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar Rp30,35 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) senilai Rp30,00 miliar.
Meski demikian, tidak semua saham dilepas oleh investor global. Sebagian pemodal asing memanfaatkan momentum ini untuk mengoleksi saham-saham tertentu yang dinilai masih prospektif. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi saham yang paling banyak diburu dengan catatan net buy atau beli bersih asing sebesar Rp61,38 miliar. Di posisi kedua, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga dikoleksi oleh investor asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp57,39 miliar.






