Proses divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) kepada MIND ID telah resmi diselesaikan. Melalui transaksi pembelian 14 persen saham dari Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM), BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID kini menguasai sekitar 34 persen saham emiten tersebut. Kepemilikan ini secara langsung menempatkan MIND ID sebagai pemegang saham terbesar. Setelah transaksi ini, porsi saham VCL menyusut dari 44,4 persen menjadi sekitar 33,9 persen, sementara kepemilikan SMM berkurang dari 15 persen menjadi sekitar 11,5 persen.
Penyelesaian skema divestasi ini berlangsung di tengah dinamika pasar komoditas nikel yang sedang berfluktuasi. Berdasarkan laporan kinerja keuangan pada semester I 2025, Vale Indonesia mencatatkan penurunan pendapatan menjadi US$ 426,73 juta dari US$ 478,75 juta pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh pelemahan harga rata-rata komoditas nikel yang berada di level US$ 12.014 per ton, turun dari US$ 13.418 per ton pada paruh pertama 2024. Dari sisi volume, penjualan nikel matte perseroan ikut terkoreksi menjadi 35.119 metrik ton dari 35.680 metrik ton, meskipun total produksi nikel matte selama enam bulan pertama tumbuh 2 persen menjadi 35.584 metrik ton.
PT Freeport Indonesia Ajukan Perpanjangan IUPK Tambang Grasberg Lebih Awal

Secara kuartalan, perseroan sebenarnya memperlihatkan perbaikan pada volume produksi dan pengiriman. Produksi nikel matte pada kuartal II 2025 tercatat naik 9 persen menjadi 18.557 metrik ton dibandingkan 17.027 metrik ton pada kuartal I 2025. Pengiriman nikel matte juga mengalami peningkatan menjadi 18.023 ton dari 17.096 ton pada triwulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, harga realisasi rata-rata nikel matte pada kuartal kedua sedikit menguat ke level US$ 12.091 per ton. Selain itu, perseroan telah memperoleh persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) untuk sekitar 2,2 juta ton bijih saprolit dari blok Bahodopi.
Di sisi profitabilitas, laba bersih Vale Indonesia pada kuartal II 2025 merosot tajam menjadi US$ 3,5 juta dari US$ 21,8 juta pada triwulan pertama. Penyusutan ini terjadi karena pada kuartal sebelumnya perseroan mencatatkan keuntungan satu kali atas pengakuan nilai wajar aset derivatif sebesar US$ 16,6 juta. Pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan di kuartal kedua tercatat sebesar US$ 40 juta, turun dari US$ 51,7 juta di kuartal pertama. Kondisi ini membawa akumulasi EBITDA semester I 2025 turun menjadi US$ 91,7 juta dari US$ 124,85 juta pada paruh pertama 2024. Merespons kinerja tersebut, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi Accumulative Buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 4.190 per lembar.
Calon Gubernur Bank Indonesia Direspons Positif, Rupiah Berpeluang Menguat

Dinamika finansial tidak hanya dialami oleh Vale Indonesia, tetapi juga oleh anggota holding pertambangan MIND ID lainnya. Pada semester I 2025, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan laba bersih 59 persen menjadi Rp 833,04 miliar, meskipun pendapatannya masih mampu tumbuh 4,12 persen menjadi Rp 20,45 triliun. Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) membukukan penurunan laba bersih sebesar 30,93 persen menjadi Rp 300,07 miliar seiring pendapatan yang terkoreksi 19 persen menjadi Rp 4,22 triliun. Kinerja emiten pertambangan pelat merah ini menjadi perhatian, terutama mengingat komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 0 persen paling lambat pada 2028.






