Pemerintah Indonesia tengah bersiap untuk kembali menggulirkan uji coba sistem pembayaran tol tanpa henti MLFF (Multi Lane Free Flow) setelah sempat tertunda beberapa kali. Langkah kelanjutan proyek ini diambil menyusul adanya rekomendasi yang diterbitkan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada akhir tahun lalu. Saat ini, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum terus melakukan koordinasi intensif dengan badan usaha pelaksana guna mematangkan skenario pengujian ulang tersebut.
Kepala BPJT Kementerian Pekerjaan Umum, Wilan Oktavian, mengungkapkan bahwa tim BPJT bersama dengan PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) serta tim pengendali sedang aktif menyiapkan skenario teknis. Penyiapan skenario ini bertujuan untuk mendetailkan berbagai aspek teknis yang harus diuji coba kembali di lapangan. Upaya ini krusial untuk menyelaraskan persepsi kedua belah pihak setelah sebelumnya sempat muncul perbedaan klaim mengenai keberhasilan sistem.
Perbedaan pendapat tersebut terjadi pasca-uji coba yang sempat dilaksanakan di Tol Bali Mandara pada akhir Desember 2023. Kala itu, pihak BPJT atau Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menyatakan bahwa sistem pembayaran tanpa sentuh tersebut belum berhasil. Sebaliknya, PT Roatex Indonesia Toll System mengklaim bahwa sistem yang diuji coba telah berhasil dijalankan. Penyusunan skenario baru ini diharapkan dapat memberikan indikator keberhasilan yang lebih objektif dan disepakati bersama.
Jaksa Agung Minta Jajaran Jaga Integritas dan Hidup Sederhana

Direktur PT Roatex Indonesia Toll System, Renaldi Utomo, menjelaskan bahwa keterlibatan perusahaannya dalam merancang skenario teknis ini tetap mengacu pada komitmen awal. Kontrak kerja sama yang dipegang oleh RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 secara konsisten berpegang pada konsep MLFF. Mengenai lokasi pengujian berikutnya, Renaldi menyebutkan bahwa Bali masih menjadi salah satu opsi sebagai wilayah percontohan, meskipun tidak menutup kemungkinan pengujian juga akan dilakukan di ruas jalan tol lainnya.
Sebagai program modernisasi transaksi jalan tol, gagasan mengenai MLFF sebenarnya sudah mulai diinisiasi sejak tahun 2018. Proyek ini kemudian dibahas secara lebih mendalam pada tahun 2021, sebelum akhirnya mengalami beberapa kali penundaan rencana implementasi. Untuk mengantisipasi kendala di lapangan saat sistem ini mulai diterapkan secara bertahap, pemerintah merencanakan masa transisi. Pada masa transisi tersebut, sistem gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan untuk digunakan.
Wamensos Minta Bupati Mandailing Natal Kebut Pengajuan Sekolah Rakyat

Di sisi lain, implementasi sistem baru ini juga menghadapi tantangan eksternal terkait kelayakan infrastruktur jalan tol itu sendiri. Pengamat transportasi sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Danang Parikesit, menyoroti masalah kendaraan dengan dimensi dan muatan berlebih atau Over-Dimension Over-Load (ODOL). Menurut Danang, selama badan usaha jalan tol tidak mampu melarang kendaraan ODOL masuk dan kendaraan tersebut menyebabkan kerusakan dini, maka mereka dapat memiliki alasan tidak dapat memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).
Proses pembiayaan dan pengawasan proyek ini juga terus dikawal oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ni Komang Rasminiati, yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur. Dengan adanya koordinasi ketat dari berbagai pihak terkait, uji coba sistem pembayaran tol tanpa henti MLFF diharapkan dapat segera terlaksana secara matang demi mewujudkan sistem transportasi yang lebih efisien di Indonesia.






