Pasar keuangan Indonesia mengalami dinamika yang cukup signifikan pada perdagangan hari Selasa (11/08/2026). Salah satu kabar utama yang menjadi sorotan adalah pengumuman Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Pengumuman mengenai nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal untuk memimpin Bank Indonesia ini direspons dengan cukup positif oleh para pelaku pasar keuangan di tanah air. Respons positif dari para pelaku pasar tersebut dinilai memberikan sentimen yang baik bagi pergerakan mata uang nasional. Berkat sentimen positif ini, Rupiah dinilai memiliki peluang atau kesempatan untuk mengalami penguatan ke depan. Proyeksi penguatan nilai tukar Rupiah tersebut diperkirakan dapat mengarahkan mata uang Garuda ke kisaran level Rp 17.600 hingga Rp 17.400 per Dolar Amerika Serikat (AS).
Meskipun terdapat sentimen positif dari dalam negeri terkait pencalonan tunggal Gubernur Bank Indonesia tersebut, pasar keuangan domestik saat ini masih berada di bawah tekanan yang cukup nyata. Pada perdagangan hari Selasa (11/08/2026), mata uang Rupiah terpantau mengalami koreksi. Nilai tukar Rupiah tercatat melemah atau terkoreksi sebesar 0,48% sehingga posisinya berada di level Rp 17.835 per Dolar AS. Koreksi pada nilai tukar Rupiah ini menunjukkan adanya tantangan yang sedang dihadapi oleh pasar keuangan Indonesia di tengah berbagai sentimen yang berkembang, baik dari lingkup domestik maupun dari faktor eksternal secara global.
Tekanan yang terjadi pada pasar keuangan domestik juga merembet ke pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan yang cukup tajam pada perdagangan hari Selasa (11/08). Pada pembukaan perdagangan sesi II, IHSG terpantau melemah lebih dari 1% hingga merosot ke level 6.200-an. Pelemahan IHSG yang melebihi angka satu persen ini mencerminkan dinamika transaksi dari para pelaku pasar modal di Indonesia dalam melakukan aktivitas perdagangan mereka di bursa domestik.
Calon Gubernur PFII Berasal dari Internal Pemerintah, Lokasi Kantor Masih Dibahas

Tekanan yang melanda pasar keuangan Republik Indonesia saat ini dinilai memiliki keterkaitan erat dengan sentimen global yang sedang berkembang. Salah satu faktor utama dari eksternal yang memicu tekanan ini adalah memudarnya harapan akan terciptanya perdamaian di kawasan Selat Hormuz. Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz dan memudarnya harapan damai tersebut pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak dunia secara global. Kenaikan harga minyak dunia ini kemudian berimbas pada pergerakan pasar keuangan di berbagai negara, termasuk memberikan tekanan terhadap pasar keuangan di Indonesia.
Di samping faktor global seperti ketegangan di Selat Hormuz, para pelaku pasar modal di dalam negeri juga tengah mengantisipasi sentimen domestik lainnya. Sentimen dari dalam negeri yang diantisipasi oleh pelaku pasar saat ini adalah terkait dengan proses rebalancing indeks MSCI. Agenda rebalancing MSCI ini menjadi salah satu faktor penting yang turut diperhatikan dan diantisipasi oleh para pelaku pasar modal di Indonesia dalam mengambil keputusan transaksi saat ini. Kombinasi antara sentimen domestik seperti rebalancing MSCI dan dinamika global turut memengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan.
Industri Alas Kaki RI Tumbuh 11,30 Persen di Tengah Tantangan Tarif AS dan Bahan Baku

Seluruh dinamika dan tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia, mulai dari proyeksi pergerakan Rupiah pasca-pengumuman calon Gubernur Bank Indonesia hingga dampak sentimen global, menjadi sorotan. Pembahasan mengenai situasi pasar ini diulas secara lengkap oleh Shania Alatas bersama dengan FX Analyst CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama. Ulasan dan analisis mendalam mengenai kondisi pasar keuangan tersebut ditayangkan dalam program Power Lunch di CNBC pada hari Selasa, 11/08/2026.






